Standar Eropa dan Pemaksaan Sekularisme di Turki

Sekularisme di Turki tidak lahir secara alamiah. Dia bukan produk konflik sosial antara para ulama dengan politisi, atau sebagai akibat dari konflik antara otoritas keagamaan dan sekuler, seperti halnya di Eropa. Namun ini lebih merupakan keinginan bersama antara para pendiri Republik Turki pasca Usmani dengan Eropa, yang menginginkan Turki didirikan atas dasar pemisahan agama dari negara. Ada juga keinginan para pemimpin politik dan militer dari era Usmani sendiri.

Oleh karena itu,  pendiri Turki Kemal Ataturk membawa serta para pemimpin politik dan militer yang loyal dengan dirinya untuk membentuk inti republik barunya, dan menyingkirkan dari mereka yang menginginkan rejim politik seperti pada era imperium Usmani. Meskipun beberapa temannya menginginkan politik gaya lama terus berlangsung, namun ide semacam itu tidak ditolak Ataturk. Karena itu, dia menghapus khilafah pada 1924, setelah sebelumnya menghapus kesultanan pada 1923. Jika yang terakhir merujuk kepada berdirinya Republik Turki di Anatolia, sementara khilafah adalah lembaga politik global dimana orang Turki sendiri tidak berhak menghapuskannya. Namun, itu yang dilakukan Ataturk. Dia ingin meyakinkan bahwa jika khilafah kembali didirikan dimana saja –langkah yang dia sendiri mencoba mencegahnya– maka pendirian tersebut tidak ada kaitannya dengan Republik Turki.  Jika ternyata khilafah berhasil didirikan di negara Muslim atau Arab lainnya, maka Ataturk yang sekuler akan menghadapi banyak tekanan untuk di dalam negeri, karena mayoritas rakyat Turki masih condong dengan konsep otoritas Islam yang bersifat trans-nasional.

Jika khilafah masih tetap dibiarkan berdiri kendati sekedar simbol, maka akan ada kesempatan historis untuk mendirikan sistem politik Islam, dimana pemerintah Turki bersifat republikan dalam hal pemerintahan, politik, ekonomi dan militer, sementara khilafah  menjadi simbol spiritual. Skenario semacam itu tentu akan menghadapi banyak kendala, karena akan ada perebutan otoritas dan terpecahnya loyalitas diantara warga Turki. Jadi tidak mungkin secara praktik sehingga kemudian khilafah dihapus oleh Ataturk sebagai upayanya menyatukan rakyat Turki.

Berdirinya pemerintahan republik yang menghapuskan pengaruh agama dari politik merupakan hal yang luar biasa bagi Muslim karena mereka tidak pernah menghadapi pemisahan sebelum seperti itu sebelumnya. Namun sejak awal, pendiri Republik Turki ingin mengadopsi sepenuhnya pemisahan agama dan negara ini, yang sebenarnya merupakan konsep asing dalam konteks Turki pada waktu itu.

Upaya untuk mengimplementasikan sistem sekuler Perancis di Turki antara 1925-1945 ternyata tidak berhasil. Turki secara ekonomi tidak produktif  dan tidak mampu menyelesaikan pelbagai problem yang dihadapinya. Negara berubah menjadi tiran dan diktator yang kejam karena terjadi banyak pembunuhan dan pengusiran. Munculnya sistem politik yang baru  berubah menjadi pertarungan antara metode pemerintahan Eropa dengan sistem sosial yang telah berlaku berabad-abad. Konflik tidak berakhir hingga 1950, ketika sebuah pemerintah yang terpilih  tidak ingin berbenturan dengan masyarakat, sebaliknya mencoba memahami dan dekat dengannya.

Sekularisme yang dikloning dari sistem Perancis dan dipaksakan dalam lingkungan yang tidak sesuai cenderung gagal sejak awal. Pencarian sekularisme yang  kompatibel dengan masyarakat Turki dan konsisten dengan keyakinan mayoritas Muslim Turki telah menjadi tujuan dan manifesto partai-partai politik dalam pemilu. Karakter sekularisme yang diserukan partai-partai politik di Turki menjadi isu utama dalam setiap kampanye parlemen, selain juga menjadi salah satu sebab pertentangan dalam masyarakat dan  terjadinya sejumlah kudeta militer di Turki.

Di Turki, kudeta dilakukan tidak hanya dalam rangka mempertahankan sekularisme dalam negara, namun juga menjadi penerapan model sekularisme Perancis. Namun dalam praktiknya pemaksaan sekularisme Ataturk dan selanjutnya Ismet Inonue yang memimpin partai pemerintah CHP hingga 1950 ternyata gagal memuaskan Muslim Turki. Setelah itu, Partai Demokrat yang dipimpin Adnan Menderes memberlakukan model baru sekularisme yang lebih longgar dan dapat diterima, meskipun di kalangan militer bukan sebagai tipe sekularisme yang dikehendaki.

Memitigasi dampak negatif sekularisme Perancis ala Ataturk menjadi tujuan partai-partai politik dan pemerintah demokratis yang ingin menempatkan rakyat sebagai kepentingan utama, dan bukannya deep state yang berpusat di Partai Rakyat Republik yang menjadi oposisi dan kepemimpinan militer yang keras dalam menerapkan sekularisme Eropa. Keduanya terhubung dengan citra sekularisme Turki seperti yang divisikan Barat, termasuk AS dan Eropa, Pelbagai kudeta militer selalu diklaim dalam rangka mengembalikan sekularisme Turki meskipun rakyat Turki sebenarnya menolak karena sekularisme ditanam di tanah yang tidak cocok. Rakyat Turki menghendaki sekularisme yang diterapkan sejalan dengan ideologi kontemporer mereka, yakni tidak anti Islam maupun bertentangan identitas Turki sendiri.

Karena itu, sejumlah klausul telah  disetujui oleh Dewan Syura Kementerian Agama (Diyanet) Turki setelah kudeta yang gagal. Klausul itu membahas sejumlah masalah budaya, intelektual, kemasyarakatan, termasuk problem yang ditinggalkan oleh gerakan Gulenis.

“Kami akan bekerjasama dengan organisasi-organisasi swasta untuk mencegah terbentuknya struktur yang sama dan mencegah kesalahan yang sama terulang kembali,” beber lembaga itu. “Harus ada aksi bersama antara Kementerian Agama dengan lembaga-lembaga agama, sosial dan sipil, tanpa mengganggu kebebasan mereka.” Aksi bersama tersebut harus memfokuskan pada nilai-nilai Islam seperti yang telah disepakati dalam pertemuan tersebut. “Struktur relijius yang diciptakan dalam kevakuman hubungan agama-masyarakat dan negara pada masa ketegangan politik dan sosial dalam beberapa hal telah memperlemah kehidupan agama di Turki. Situasi ini tidak pelak menuntut para politisi untuk mencari solusi dalam hubungan agama, negara dan masyarakat, termasuk membentuk aturan hukum yang dibutuhkan.”

Klausul itu juga menjelaskan bahwa institusi agama terbesar di Turki mengakui adanya ketegangan politik dan sosial yang berdampak kepada memburuknya hubungan antara agama, negara dan masyarakat. Ini menyebabkan banyak orang menanyakan: Tidak cukupkah militer melihat kelemahan yang dialami republik selama beberapa dekade awal  terjadi karena memaksakan sekularisme model Eropa? Tidak cukupkah bahwa hasil pemilu parlemen, setelah penerapan kebijakan multi partai di Turki pada 1950, ternyata tidak ada yang menginginkan adopsi sekularisme ketat model Ataturk; karena kenyataannya partai sekuler moderatlah yang menang pemilu? Ini artinya masyarakat Turki sendiri terbuka untuk merekonsiliasikan pandangan sekularisme yang ada dengan budaya, kultur dan keyakinan mereka.

Rakyat Turki dituntut untuk mengirim pesan bahwa mereka tidak harus mengikuti cara Eropa. Ini tampak jelas ketika Wakil Presiden Numan Kurtulmus berbicara beberapa hari sebelum referendum Inggris atas Uni Eropa Juni lalu karena kampanye dalam referendum itu benar-benar bersifat Islamophobia dan sebagiannya anti Turki. “Saya berharap bahwa negara-negara Eropa tidak melakukan seperti apa yang dilakukan Inggris,” kata Kurtulmus, “dan tidak menggunakan kebencian atas Turki atau Islam sebagai kartu untuk mencapai tujuan politiknya.”

Sekularisme adalah ideologi materialistik yang mengatur hubungan antara agama dan politik. Ini bukan konsep yang baku sehingga selalu ada fleksibilitasnya didalamnya, tentunya berdasarkan keinginan rakyat beserta lembaga agama dan politik yang ada. Sekularisme Barat bukan standar untuk penerapan sekularisme di dunia karena memang tidak ada versi tunggal tentang itu. Tidak ada persyaratan bahwa sekularisme harus anti agama atau bahwa agama harus dikeluarkan dari kehidupan publik. Itu semua adalah keinginan rakyat. Tipe sekularisme yang dikembangkan di Turki adalah urusan rakyat untuk menentukannya sendiri. Merekalah yang berkuasa dalam masyarakat demokratis, dan tidak perlu harus sama dengan Eropa maupun negara Barat lainnya untuk menerapkan model sendirinya.

 

Sumber

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *