Sulayman Kanuni: Puncak Kejayaan Imperium Usmani

Ketika Usmani mulai bangkit melesat laiknya meteor pada awal 1300-an, mereka sebenarnya pada awalnya adalah sekumpulan prajurit kecil di pinggiran dunia Islam. Bermula dari pasukan biasa dibawah kepemimpinan Ghazi Usman, mereka kemudian melebarkan sayap kekuasaannya dari Asia hingga  Eropa. Pemerintahan Ghazi Usman mampu memulihkan kendali kekuasaan yang merupakan bekas wilayah imperium Byzantium dan Seljuk. Dibawah kekuasaan sultan Bayezid I, Mehmet II dan Selim I, imperium Usmani tumbuh menjadi salah satu negara besar pada waktu itu.

OttomanEmpireIn1683-300x282Kekuasaan Usmani mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Sulayman. Dalam masa pemerintahannya (dari 1520-1566), Usmani tumbuh menjadi negara paling kuat dan berpengaruh di Eropa dan Timur Tengah. Kekuasaannya dilihat sebagai era keemasan Usmani dan sejarah Islam. Bahkan kalangan non Muslim mengakui masa keemasan tersebut sehingga menjuluki dengan sebutan Sulayman “Yang Menakjubkan”. Sementara di kalangan Muslim, dia  sering disebut dengan panggilan, “Sulayman Al Qanuni’ (Pembuat Hukum). Di akhir kekuasaannya di pertengahan 1500, kemunduran Usmani  sebenarnya telah dimulai, hanya saja setidaknya membutuhkan waktu hingga 300 tahun untuk kemudian imperium ini benar-benar berakhir pada 1922.

 

Awal Kekuasaan dan Penaklukan

Ayah Sulayman, Selim I telah merubah lanskap kekuasaan Usmani. Dibawah kekuasaannya, wilayah Usmani mencakup hampir seluruh negara Arab, Afrika utara di Barat hingga semenanjung Arabia dan perbatasan Persia di sebelah timur.

Dengan penguasaan teritorial tersebut, para sultan Usmani bergelar khalifah dan menjadi pelindung dunia Islam. Sulayman mewarisi kekuasaan Usmani pada 1520, di usia belia, 26 tahun. Perintah pertamanya sebagai Sultan dan Khalifah adalah menyingkirkan segala ancaman yang ada. Dengan perintah itu, Sulayman hendak menegaskan dua hal; pertama, kendali kekuasaan Usmani diakui dan yang kedua, tidak ada yang boleh mengambil kesempatan atas sultan yang masih terlalu muda ini.

555989_10100463302435329_1530102853_n-300x200Ancaman terdekatnya pada waktu itu adalah  benteng Beograd, yang dikuasai kerajaan Hungaria. Hungaria sejak 1400-an telah menjadi musuh Usmani dari sebelah utara dan Beograde menjadi ancaman terdekatnya. Setelah memegang kekuasaan, dia segera memberangkatkan pasukannya menuju Beograde pada 1521. Setelah pengepungan yang berjalan singkat, Beograd jatuh pada 1521 ke tangan Usmani dan Hungaria tidak lagi menjadi ancaman di sebelah utara.

Ancaman berikutnya, kepulauan Rhodes di Mediterania. Dibawah kendali bekas para ksatria Salib, Hospitaller, Rhodes Island menjadi gangguan bagi jalur perdagangan Usmani di laut Mediterania. Kapal-kapal yang berlayar dari Mesir ke Anatolia sering terganggu oleh serangan dari Rhodes. Gangguan tersebut membuat Sulayman mengerahkan pasukannya ke Rhodes pada 1522. 100 ribu pasukan  dengan kapal lautnya dikerahkan untuk menundukkan para Kstaria Hospitaller. Dia sendiri yang memimpin pengepungan Rhodes yang berlangsung selama  enam bulan. Akhirnya,  para Ksatria Hospitaller tidak mampu bertahan  kendati dilindungi benteng yang perkasa dan kemudian menyerah. Sulayman membiarkan sisa-sisa para ksatria mengungsi ke Italia dan Rhodes setelah itu menjadi bagian wilayah Usmani.

Kemunduran Wina

Sejak Dinasti Hapsburgs di Austria berkuasa, mereka meluaskan wilayahnya dari Wina hingga Hungaria dan merebut Buda dan beberapa wilayah lainnya di Hungaria dari Usmani. Tidak pelak, tindakan itu memancing kemarahan Sulayman pada 1529 sehingga dia mengancam akan merebut Wina.

Tradisi perang di Eropa pada waktu itu adalah pasukan berangkat pada musim semi, bertempur sepanjang musim panas dan kembali ke ibukota untuk istirahat pada musim dingin. Ini artinya, mereka tidak akan bertempur pada musim dingin atas pertimbangan, risikonya yang besar.

Karena itu, Sultan Sulayman memberangkatkan pasukan dari Istanbul pada awal musim semi, Mei 1529 menuju Wina. Hanya saja, pada waktu itu, seperti tidak biasanya, hujan turun pada musim panas. Perjalanan pasukannya akibatnya terganggu karena jalan yang becek dan licin. Banyak artileri yang ditinggalkan karena kondisi cuaca yang buruk.

Pasukan Sulayman terlambat ketika sampai di Wina karena sudah  menjelang musim dingin. Pengepungan kota Wina sebenarnya relatif sukses, hampir saja kota Wina jatuh. Hanya saja dua minggu setelah pengepungan, pasukan Janisari meminta kembali ke Istanbul karena musim dingin mulai tiba. Atas pertimbangan keamanan, Sulayman memenuhi keinginan pasukannya dan pengepungan dihentikan. Tidak pelak, upaya Sulayman untuk menundukkan Dinasti Hapsburgs gagal. Kota Wian menjadi penanda terakhir ekspansi wilayah Usmani, karena setelah itu mereka tidak mampu meluaskan lagi kekuasaannya. Setelah 230 tahun sejak berdirinya, Usmani  mencapai batas maksimalnya.

Reformasi Pemerintahan

342px-Semailname_47b-171x300Ekspansi militer Usmani terjadi pada 10 tahun pertama kekuasaannya. Setelah itu,  fokus pemerintahannya adalah pembenahan administrasi untuk memperkuat urusan internal Usmani.

Pencapaian terbesar pemerintahan Sulayman adalah reformasi hukum. Ada dua bentuk pelaksanaan hukum Usmani. Pertama, hukum Syariah yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah dan kedua, hukum yang dibuat Sultan, yang disebut kanun.  Hukum-hukum Sultan adalah peraturan-peraturan yang ditetapkan sultan karena tidak dijelaskan secara terang dalam hukum Syariah, seperti pemberlakuan pajak, peraturan keamanan dan urusan administrasi pemerintahan.

Dari masa pemerintahan  Usman hingga Selim, ratusan kanun dikumpulkan dan dikodifikasi. Sulayman mengerjakannya sendiri bersama mufti Usmani,  Syaikh al Islam  Ebussuud Efendi untuk meneliti dan menentukan apakah qanun-qanun sebelumnya bertentangan dengan nilai-nilai Islam atau bertentangan satu dengan yang lainnya. Sehingga terkodifikasi satu qanun besar yang lebih efektif atau sering disebut sebagai Kanun -i Osmani (Hukum Usmani) yang menjadi pegangan dan dasar hukum pemerintahan Usmani selama 300 tahun. Karena itu, Sulayman dikenal dengan sebutan “Pembuat Hukum” atau Kanuni.

Pajak juga menjadi perhatian Sulayman. Di Kanun-i Osmani, dia meringankan beban pajak, khususnya kepada para petani Kristen. Mayoritas penduduk Usmani pada waktu itu adalah pemeluk Nasrani sehingga menjaga loyalitas dan kebahagiaan mereka menjadi prioritas utama Sultan Sulayman. Dengan keringanan pajak,  status keuangan para petani Kristen menjadi lebih baik. Pada kenyataannya, beban pajak pemeluk Nasrani di negara Usmani lebih rendah dari pajak penduduk Kristen di kerajaan-kerajaan  di Eropa. Walhasil, banyak penduduk Kristen Eropa yang pindah ke negara Usmani selama masa kekuasaan Sultan Sulayman. Mereka lebih menyukai hidup di bawah pemerintahan Muslim, salah satunya karena alasan keringanan  pajak.

Warisan

Sultan Sulayman dianggap sebagai salah satu sultan paling sukses dalam sejarah Usmani. Pemerintahannya menjadi puncak teritorial imperium Usmani demikian pula tata hukum, pendidikan dan pertanian. Masjid Shehzade dan Suleymaniye dibangun oleh Mimar Sinan atas permintaan Sultan Sulayman di Istanbul. Hingga kini, kedua masjid itu masih berdiri tegak menjadi saksi warisan kegemilangan imperium yang terbesar dan terkuat di dunia pada abad 16.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *