Sultan Abdul Hamid II: Pembela Islam di Tengah Tubir Kebangkrutan (1)

Dr. Nazeer Ahmed, PhD

Sultan Abdul Hamid II mewarisi imperium yang telah bangkrut. Berawal dari Perang Crimea (1853-1856). Usmani mengalami peningkatan hutang yang drastis. Beban untuk mempertahankan pasukan yang besar dan upaya modernisasi untuk menghadapi ancaman asing mendorong negeri itu untuk terus berhutang. Pada 1978, hutang publik negeri itu mencapai lebih dari 13,5 milyar Kurush. Biaya untuk membayar hutang mencapai lebih dari 1,4 milyar Kurush, yang sama dengan 70 persen dari total pendapatan. Beban hutang yang berat mempengaruhi semua aspek dalam pemerintahan Sultan, termasuk hubungan internasional, pendidikan, pertanian dan reformasi politik.

Imperium Usmani yang lemah secara ekonomi dan militer menjadi obyek ambisi imperial Eropa. Rusia yang bangkit menjadi kekuatan Eurasi, mencaplok wilayah Trukoman di Asia Tengah dan Kaukasus. Tsar Rusia ingin membuka akses ke perairan hangat di Mediterania agar menjadi pemain dominan dalam pertarungan memperebutkan dominasi dunia. Namun Usmani, yang wilayah mencakup laut Adriatik hingga ke perbatasan Persia menahan rencana tersebut. Untuk mencapai ambisinya dan menekan Usmani agar memberikan konsesinya, Tsar menggunakan kombinasi ancaman militer dan tekanan tidak langsung melalui pemberontakan Serbia dan Bulgar. Perancis, setelah menduduki Aljazair, melirik Maroko dan Tunisia. Italis menginginkan Libya. Sementara Austia-Hungaria melirik Bosnia Herzegovina. Kepentingan Inggris Raya ada di Mesir dan kendali rute akses ke imperium India. Hanya Jerman, yang menjadi kekuatan dominan di Eropa dibawah Bismarck lebih suka dengan status quo. Meskipun demikian, Jerman juga ingin mengorbankan integritas wilayah Usmani untuk menjaga kepentingannya. Menyadari bahwa perang antara Rusia dan Austria-Hungaria di Balkan kemudian memaksanya untuk berpihak, Kaiser Jerman membentuk aliansi antara Jerman dengan Austria-Hungaria dan Tsar Rusia. Aliansi ini dinamakan Liga 3 Kaisar.

Dalam mosaik Eropa yang nasionalistik pada abad 19, Usmani berdiri sendirian dalam mempertahankan negara multi nasional, etnik dan agama. Tidak pelak hal itu mengundang banyak pihak untuk ikut campur. Kekuatan Eropa, yang menggunakan perbedaan etnik dan agama sebagai kesempatan politik bertekad membabat habis Imperium Usmani, sehingga disebut “Pria Sakit di Eropa” oleh Tsar karena tidak dapat membela dirinya sendiri dan mengharapkan bantuan dari sekutunya untuk menjamin integritas wilayahnya.

Menghadapi pelbagai ancaman tersebut, Sultan Abdul Hamid mengobarkan perjuangan gagah berani untuk menyelamatkan imperium, setidaknya menyelamatkan wilayah-wilayah utama Muslim, jika tidak dapat lagi mempertahankan provinsi-provinsi Kristen. Dalam upayanya tersebut, dia menggunakan diplomasi ketimbang perang, memainkan ambisi negara-negara Eropa yang saling berebut wilayah, dengan harapan dia dapat mengulur waktu untuk mereformasi institusi yang menopang imperium Usmani. Dalam banyak hal, dia berhasil. Namun dia tiba dalam tahap waktu yang sangat terlambat. Gaya kepemimpinannya yang otokratis mengundang ketidaksukaan rakyat. Dan keberhasilannya dalam mereformasi militer sehingga cukup kuat justru menyebabkan dirinya terjungkal dari kekuasaan dan berujung kepada kematian imperium Usmani.

Abdul Hamid II (1842-1918) adalah anak dari Sultan Abdul Majid (1823-1861) dan ibu dari Kaukasus. Sejak kecil, dia mendapatkan pendidikan sebagai khalifah dan Sultan. Para gurunya diantaranya adalah beberapa ulama dan syaikh kenamaan di Istambul. Dia cakap membaca Qur’an, Sunnah Nabi dan mazhab fiqih Hanafi. Dia dilatih dengan praktik Sufi dari madrasah Naqsabandi dan Helveti, yang dianut mayoritas rakyat Usmani. Sebagai pangeran, dia juga belajar dari para bankir, diplomat dan para pemimpin Tanzimat, berdiskusi dengan mereka dalam banyak isu yang mempengaruhi imperium. Dalam perjalanannya, dia banyak memahami isu ekonomi, pemerintahan dan politik internasional. Sebagai seorang pemuda, dia jauh dari sikap hura-hura seperti banyak dilakukan oleh para pangeran lainnya, sebaliknya dikenal sebagai orang yang rajin dan taat ibadah serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Kualitas ini menjadikan dia dapat bekerja dengan baik, mendekatkan dirinya kepada kaum Muslimin di seluruh dunia dan menjadikan dirinya untuk pertama kali di abad 19 mengajak untuk mempersatukan masyarakat Muslim dunia.

Setelah diangkat, Sultan Abdul Hamid bangkit membendung ambisi Rusia di Balkan. Tsar yang menyatakan dirinya pembela etnik Slav dan pelindung Gereja Ortodok Timur mendorong pemberontakan di Serbia. Usmani sukses memadamkan pemberontakan apda 1876. Menyadari bahwa intervensi aktid atas nama Serbia membawa resiko berperang dengan Austria-Hungaria, maka Tsar menggeser perhatiannya ke Bulgaria. Dalih bagi intervensinya adalah adanya tuduhan perlakuan buruk penduduk Bulgar Kristen oleh Usmani, padahal tujuan sebenarnya adalah pembentukan Bulgaria raya dibawah dominasi Rusia yang membentang dari Sungai Danube hingga laut Aegea. Jika Pantai barat Laut Hitam  menjadi bagian dominasi Rusia, maka  pasukan Tsar memiliki akses ke Laut Mediterania. Namun langkah itu membutuhkan kerjasama dengan Austria. Selama Perang Crimea pada 1853-1856, pasukan Austria menduduki Rumania dengan persetujuan Rusia. Untuk mencapai Bulgaria, pasukan Rusia harus menyebarangi Rumania, yang kini berada dibawah kendali Hapsburg. Takut jika ambisi Rusia dan Austria yang bertabrakan dapat memicu perang, Bismarck Jerman mengusulkan pembagian wilayah Usmani di kawasan Balkan itu menjadi Bosnia sebagai bagian kerajaan Hapsburg Austria, sementara Rumania dan Bulagria masuk menjadi bagian Rusia. Inggris, yang takur bahwa ekspansi lebih jauh Austria dan Rusia atas Mediterania akan mengancam kepentingannya, maka Inggris menentang rencana tersebut dan mengusulkan konferensi di Istanbul untuk merekonsiliasi pelbagai ambisi yang bertabrakan tersebut.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *