Sultan Abdul Hamid II: Pembela Islam di Tengah Tubir Kebangkrutan (V)

Hilangnya Tunisia ke Perancis dan Mesir ke Inggris berarti bahwa imperium Usmani kini hanya terdiri dari wilayah Asia, yang mencakup jantung wilayah Anatolia dan provinsi Arab Suriah, Irak dan Arabia. Perang dengan Rusia dan hilangnya Mesir dan Tunisia telah merampas lebih dari 60 persen penduduknya. Ada gelombang pengungsi besar-besaran dari Balkan. Para pengungsi ini, karena kehilangan harta bendanya, sangat membenci orang Kristen dan bertekad melanjutkan perjuangannya melawan Rusia.

Penderitaan Muslim Balkan mengundang simpati Muslim dari pelbagai penjuru Usmani dan menjadi alasan pertama yang mendorong opini rakyat untuk membangun solidaritas Islam. Alasan kedua karena semakin meningkatnya kecenderungan pan Islam karena didikan sejak kecil. Sebagai anak muda, Sultan Abdul Hamid dididik oleh para ulama dan syaikh terkemuka pada saat itu. Dia sendiri adalah seorang taat beragama, jauh dari hura-hura, dan memperhatikan ajaran Al Qur’an dan Sunnah. Dengan naluri dan pelatihan, Sultan terbentuk pada dirinya untuk dekat dengan dunia Islam.

Yang ketiga adalah kebangkitan perasaan revivalis diantara Muslim di dunia, seperti yang dilakukan oleh Mahdi Sudan (1884). Gerakan Tijaniyah di Maghrib dan gerakan Sanusiyah di Libya mendorong meningkatnya kesetiaan Muslim terhadap agamanya di kawasan Afrika Utara. Di Afghanistan dan Asia Tengah, retoriak Jamaluddin al Afghani telah mendorong gelora pan Islam. Di Kaukasus, perlawanan terhadap agresi Rusia  dipimpin oleh tarekat sufi Naqshabandiyyah. Seiring penangkapan Syaikh Syamil (1854), mereka bergerak bawah tanah, sangat antipati terhadap kekuasaan Rusia.

Alasan keempat adalah munculnya kemarahan rakyat karena adanya eksploitasi ekonomi imperium karena hutang dan kapitulasi. Hutang Usmani yang sangat besar melumpuhkan negara itu, karena  80 persen pendapatannya digunakan untuk membayar. Kapitulasi digunakan untuk mendapatkan perjanjian perdagangan yang menguntungkan produk dan barang-barang Eropa. Industi Usmani yang minim modal dan masih muda tidak mampu bersaing dengan produk-produk Eropa, sehingga imperium Usmani hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi Eropa, selanjutnya, menggunakan produk Eropa dan Amerika.

Terakhir, dengan majunya kolonialisme, maka banyak wilayah di dunia Islam berada dibawah dominasi Eropa. Perancis di Afrika Utara, Rusia di Asia Tengah, Inggris di India dan Austria-Hungaria di Bosnia yang memiliki populasi Muslim yang besar berada dibawah kendali mereka. Negara-negara besar dalam kondisi rentan mendapatkan perlawanan dari Muslim sebagaimana Usmani mendapat perlawanan dari pemeluk Kristen. Sultan Usmani juga menjadi Khalifah. Dia menduduki jabatan yang hampir sama dengan posisi Paus dalam Katolik Roma. Kedudukan ini dapat digunakan untuk menekan negara-negara Eropa yang Kristen dan tidak lagi mencampuri urusan satu-satunya negara Islam yang masih ada.

Keyakinan yang dibentuk oleh realpolitik ini mendorong Sultan mengenakan mantel Khalifah secara terbuka. Abdul Hamid membuat upaya terkonsertasi untuk mengambil manfaat kedekatan hubungannya dengan Muslim, tidak hanya di imperium namun juga dengan Muslim di India dan Asia Tengah. Dia bersikeras menggunakan privilege-nya sebagai khalifah untuk mengangkat wakil-wakil agama di Balkan. Penulis seperti Namuk Kamal menekankan alasan asal muasalnya imperium dan kontribusinya sehingga menjadikan Turki sukses membangun peradaban Islam di dunia. Sultan melakukannya dengan menjalankan shalat Jumat di Aya Sopia dalam kereta terbuka agar dapat dilihat rakyat. Ramadhan menjadi bulan spesial perayaan. Setiap malam, sebelum buka puasa, Sultan duduk di singgasana dalam ruangan besar dimana berjajar di masing-masing sisinya para ulama dan tamu undangan. Sultan juga mengundang rakyat untuk bergabung dalam acara buka puasa dan melakukan ibadah bersama dengan rakyat.

Negara-negara Eropa melihat hal itu dengan kecurigaan, namun mereka tidak berdaya untuk menghentikannya. Postur keagamaan yang dijalankan Sultan menjadi ancaman karena dapat menggerakkan pemberontakan Muslim terhadap para penguasa kolonial. Setiap ada praktik kezaliman terhadap Muslim baik oleh Rusia, Inggris atau Perancis akan mengundang nota protes Sultan sehingga mengundang simpati dan dukungan dari Muslim di seluruh dunia. Inggris khususnya sangat khawatir karena banyaknya Muslim di India sehingga membuat propaganda bahwa Inggris menjadi sahabat dan pelindung Usmani. Sultan menyambut perwakilan Muslim dari seluruh dunia ke istananya dimana mereka diterima dengan penghormatan seperti laiknya kepala negara. Salah satu perwakilan yang diterima adalah Jamaluddin Afghani, pembaharu dari Afghanistan yang berkeliling ke seluruh penjuru dunia untuk membangunh persatuan politik dan budaya diantara Muslim. Kegairaha agama bangkit dan Sultan mendapatkan dukungan para ulama dari seluruh dunia sehingga membangun legitimasinya di mata mayoritas umat. Muslim di seluruh dunia meminta bimbingan sultan dalam masalah beragam, mulai dari praktik keagamaan hingga pemakaian fez.

Keuntungan dari postur keagamaan yang ditampakkan Sultan menjadi penyeimbang kekuatan lebih dari seperempat abad. Imperium Usmani pada masa itu relatif damai. Negara-negara Eropa, ketimbang melakukan pendudukan militer, kini lebih suka bersaing untuk mendapatkan bahan mentah dan pasar. Harga yang dibayar karena kecenderungan pan Islam kerajaan ini adalah berkembangnya ketidaksukaan minoritas Kristen sekalipun reformasi tanzimat yang memberikan kesamaan kesempatan bagi setiap Millet telah dijalankan.

Sultan Abdul Hamid yakin bahwa satu-satunya cara untuk memodernisasi imperium adalah melalui pemerintahan yang terpusat. Keyakinan ini diperkuat dalam dua tahun pertama kekuasaannya. Dia sangat kecewa dengan PM Midhat Pasha, yang juga dianggap sebagai ayah parlemen Usmani dalam menangani negosiasi di Konferensi Istanbul 1876. Pengalaman Midhat sendiri dengan negara-negara Eropa menjadikan dirinya mengambil sikap keras dalam Konferensi Istanbul ketimbang menerima nasehat Sultan yang lebih memilih negosiasi dan kompromi. Kegagalan konferensi mendorong invasi Rusia dan kekalahan Usmani yang memaluka. Disamping, para politisi di parlemen lebih tertarik dengan menjaga karir politik mereka ketimbang mencari solusi yang tengah dihadapi imperium. Para nasionalis Kristen menggunakan mimbar parlemen sebagai platform untuk menyuarakan tuntutan otonomi mereka atau bahkan kemerdekaan. Pada Januari 1878, pasukan Rusia mendekati Istanbul, Sultan berkonsultasi dengan parlemen untuk mengundang armada Inggris berlabuh di Istanbul sebagai upaya deteran atas pendudukan Rusia. Alih-alih mendapatkan pandangan, Sultan sebaliknya mendapatkan ceramah dari warga biasa tentang cara berperang. Sultan akibatnya tidak lagi percaya dengan integritas birokrat dan berkesimpulan bahwa imperium tidak siap dengan demokrasi parlementer sehingga menjadi kesempatan terbaik untuknya mempertahankan imperium dengan kontrol dirinya. Pada Februari 1878, dia membubarkan parlemen berdasarkan ketentuan konstitusi dan mengambil alih kekuasaan.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *