Sumbangsih Islam bagi Kebangkitan Peradaban Modern (2)

Dua orang lain yang memainkan peran kritis dalam pemindahan pengajaran Yunani kedunia Muslim adalah Hunain Ibnu Isham yang dikenal dengan nama latin Joanitius dan Qusta Ibnu Luqa dari Baalbek.

Dilahirkan dekat al Hira, ibukota lama dinasti Laksmid di Irak, Hunain ibnu Ishaq adalah anak dari seorang dokter, yang melihat minat anaknya di dunia kedokteran sehingga mengirimnya ke Baghdad untuk belajar. Di ibukota, Hunain bertemu dengan orang-orang berpengaruh, seperti Banu Musa, sehingga terlibat dalam upaya untuk menerjemahkan pelbagai karya kedokteran Yunani kedalam bahasa Arab, termasuk Galen, Hippocrate seperti sumpah Hippocrates yang menjadi kewajiban bagi mereka untuk diambil sumpahnya sebelum berpraktik sebagai dokter. Sumpah tersebut masih dipraktikkan hingga sekarang. Hunain dikenal sebagai penerjemah yang sangat cakap di Bayt al Hikmah. Metode ilmiahnya nyaris sempurna. Dia cenderung menerjemahkan pelbagai teks tersebut secara lebih bebas dan jauh dari kesan literalistik -kadang pada titik yang tidak dapat dipahami dari mereka yang tidak tahu teks aslinya.

Hunain juga menulis setidaknya 29 karya asli tentang kedokteran. Diantaranya yang paling terkenal adalah koleksi 10 tulisan tentang penyakit mata. Karyanya ditulis secara sistematik tentang anatomi dan fisiologi mata serta pengobatan atas gangguan penglihatan. Karyanya menjadi karya Arab pertama yang memasukkan gambar anatomi yang dibuat secara akurat. Buku ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan selama berabad-abad menjadi referensi otoritatif di pelbagai universitas di barat dan timur.

Hunain adalah seorang Muslim yang taat dan kiprahnya membawa kehormatan kepada profesi dokter. Kalifah al Mutawakkil menguji  integritas Hunain dengan memerintahkannya untuk memberi racun: “Saya hanya belajar menggunakan obat-obat yang bermanfaat saja karena ini hanya diperintahkan Allah,” jawab Hunain. Karena integritasnya, dia diangkat sebagai direktur Bayt al Hikmah.

Qusta Ibnu Luwa juga dikenal sebagai penerjemah dan ilmuwan yang hebat. Ibnu al Nadim sendiri menganggapnya lebih baik ketimbang Hunain dalam penerjemahan. Katanya: “Dia tidak pernah dikritik, menjadi pakar dalam kesusteraan lisan Yunani dan hebat dalam diksi Arab.” Qusta menulis 40 karya asli tentang banyak hal, mulai dari politik, kedokteran, “kaca pembakar”, imsonia, lumpuh, penyakit rambut, sebab-sebab angin, pengenalan ilmu logika, geometri dan banyak hal lainnya.

Yuhanna ibn Masawaih adalah salah satu direktur awal Bayt al Hikmah. Dia melayani 4 khalifah, mulai dari al Ma’mun,  al-Mu’tasim, al-Wathiq dan al-Mutawakkil. Dia menulis hanya eksklusif tema tentang problem kesehatan, khususnya ginekologi. Ibnu al Nadim menggambarkan lingkungan ilmiah pada abad kesembilan di Baghdad sebagai lingkungan yang benar-benar serius:

Ibnu al Hamdun, sahabat khalifah secara bergurau mengolok-ngolok Ibnu Masawaih didepan khalifah al Mutawakkil, dimana Ibnu Masawaih membalasnya, “Jika di tempat ketidakpedulian ada kepandaian, maka kepandaian itu dapat dibagikan kepada 100 kumbang hitam sehingga masing-masing kumbang itu lebih cerdas dari Aristoteles.”

Boleh jadi para dokter terbesar pada abad 9 adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Zakariya al Razi, yang berasal dari kota Rayy, Al Razi di Barat disebut dengan Rahzes, yang karya-karyanya berjumlah 184 dikumpulkan oleh Al Biruni pada abad 11 M. 56 diantaranya bertema kedokteran. Al Razi sangat tekun dalam belajar tradisi kedokteran baik yang didapatkan ilmunya dari terjemahan di Bayt al Hikmah maupun dari penelitian dan eksperimennya sendiri.

Jika banyak ilmuwan tidak kritis terhadap para ilmuwan dan filosof Yunani, namun Al Razi mempertanyakan banyak hal dan lebih mempercayai penelitiannya sendiri ketimbang menerima begitu saja pandangan orang lain. Karya besarnya “al Hawi” berisi penelitian dan diagnosisnya sehari-hari. Dia menulis tentang penyakit cara air dan campak, yang menjadi karya pertama yang dapat membedakan gejala-gejalanya secara tepat.

Sahabat Ibnu al Nadim memberikan kesaksian tentang keilmuannya:

“Ketika saya menanyakan orang tentang Razi, dia mengatakan: “Dia adalah orang tua dengan kepala yang berisi ilmu. Dia biasa duduk di kliniknya dengan para muridnya..pasien akan masuk dan menerangkan penyakitnya kepada orang-orang pertama yang ditemuinya. Jika mereka tahu apa penyakitnya maka bagus, namun jika mereka tidak bisa, maka pasien tersebut akan dirujuk ke lainnya. Jika kemudian mereka tahu dan dapat menanganinya bagus, namun jika tidak, maka akan ditangani al Razi sendiri. Dia adalah orang yang cakap, pemurah dan baik hati. Dia sangat sayang kepada orang miskin dan sakit, sehingga dia akan membantu dan mengobatinya.”

Tidak seperti era sekarang, ilmuwan Muslim pada zaman dahulu bukan spesialis. Mereka akan menyelidikan banyak hal yang menarik perhatiannnya, karena mereka memandang semua ilmu penting. Mungkin gambar seperti ini dapat dilihat pada al Kindi yang sering disebut “Filosof Arab”. Al Nadim mengatakan tentang al Kindi sebagai “orang yang terkenal dimasanya dan tidak tertandingi di eranya karena pengetahuannya tentang semua ilmu pengetahuan klasik.”

Al Kindi menjadi filosof Muslim pertama yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan esensial antara rasionalisme Yunani dengan wahyu. Dia sendiri sangat relijius, dan mencoba menggunakan logika Aristoteles untuk mendukung pelbagai dogma penting Islam. Namun yang mengejutkan bagi seorang al Kindi adalah luas dan dalamnya ilmu yang ditekuninya. Dia menulis tentang logika, filsafat geometri, kalkulasi, arithmetika, musik, astronomi dan banyak ilmu lainnya. Dia menulis pengantar arithematika dan banyak karya lainnya yang tak terhitung jumlahnya, seperti: Penggunaan Arithmatika India, Bahwa Permukaan Laut Bidang, Menghitung Azimut Ruang, Pengantar Seni Musik, Proyeksi Cahaya, Penjelasan Sebab Retrogresi Bintang, Alasan Mengapa Hujan Hanya Turun di Daerah-Daerah Tertentu dan lain-lain.

Al Kindi dan dalam beberapa hal al Farabi penggantinya, menunjukkan hidupnya pemikiran Muslim pada abad 10. Al Farabi banyak bergelut dengan problem filsafat seperti halnya al Kindi menulis buku yang berjudul “Al Madinatul Fadilah” atau kota sempurna yang menjelaskan derajat dimana Islam berasimilasi dengan ide Yunani dan kemudian menyempurnakannya. Kota Sempurna merupakan tulisan yang dapat disebut urbanisme etik -yakni kota yang dibangun dengan prinsip moral dan agama. Dari konsep ini pula kemudian infratruktur dibangun. Al Farabi tidak diragukan merefleksikannya dalam bentuk lingkaran kota Baghdad, Kota Perdamaian, yang secara sadar dibangun atas pola kota kosmologi kuno di belahan timur. Lingkarannya mewakiliki kosmos dan 4 titik gerbangnya yang menjadi titik penjuru mata angin.

Setelah kematian al Farabi pada 950, pemikiran ilmiah Islam dalam periode pertama terbangun. Dimulai pada 763 melalui pembangunan kota Baghdad. Kota ini menjadi penerjemahan pertama geliat intelektual kuno kedalam horison intelektul Arab. Pada kurun itulah kemudian dibangun rumah sakit, universitas, perpustakaan, lembaga sosial dan pelayanan publik, seperti kantor pos dan suplai air. Selama 300 tahun berikutnya, meskipun Abbasiyyah kemudian perlahan pecah, namun kemajuan ilmiah dan intelektual terus berlanjut, dan kini berpusat di kota-kota provinsi seperti Khorasan dan Spanyol.

Anekdot populer menggambarkan latar belakang intelektual pada saat itu. Sang penemu pertandingan catur dihadiahi satu permintaan oleh sang penguasa kepada siapa permainan itu ditampilkan. Permintaan penemu itu sederhana. Dia ingin sebanyak mungkin biji gandum yang akan ditempatkan di papan catur. Jika satu biji ditaruh di kotak catur pertama, dua di kedua, 4 di ketiga dan 8 di keempat hingga kotak ke 64 di papan catur. Sang penguasa setuju untuk memberikan apa yang tampaknya permintaan yang mudah, namun ketika dipenuhi, ternyata sang penguasa mendapati bahwa kotak papan catur memuat seluruh biji gandum kerajaan.

Al Biruni, ilmuwan Persia abad 11, ingin tahu berapa jumlah biji gandum yang dibutuhkan. Dia sampai kepada angka 18,446,744,073,709,551,615. Orang-orang yang berpikir bahwa metode penghitungan abad pertengahan terlihat primitif, maka mereka hendaknya mecoba menghitungnya tanpa kalkulator, seperti Biruni.

Al Biruni menemani ekspedisi Mahmud Ghazna ke India pada 1001. Dia belajar sanksekerta dan menulis sejarah India berdasar sumber-sumber lokal dan juga hasil pengamatannya sendiri. Keakuratan Al Biruni tentang jumlah biji di papan catur terefleksikan dalam karya sejarahnya. Seperti para pendahulunya di Baghdad, dia menunjukkan minat dalam pelbagai ilmu dan sangat perhatian terhadap masalah-masalah praktis. Misalnya, dia adalah penulis pertama yang mengidentifikasi beberapa fakta geologis, seperti pembentukan batu sedimen. Dia selama berabad-abad dikenal sebagai astronom matematik besar dan ilmuwan yang mengkritik model alam semesta Ptolemous.

Al Biruni adalah penulis detail tentang trigonometri bidang. Trigonometri pada kenyataannya adalah inovasi matematikawan Muslim yang pertama kali menjelaskan tentang fungsi sinus, cosinus dan cotangent. Matematikawan lain, seperti Nasiruddin al Tusi adalah penulis karya-karya penting tentang etik dan teori matematika yang paling maju dalam semua cabang, sementara Umar Khayam, yang di Barat dikenal sebagai penyair adalah penulis buku teks Aljabar yang paling elegan dan jelas yang pernah ditulis.

Banyak kemajuan ini yang dicapai di wilayah-wilayah Islam pada waktu itu, diantaranya yang berkaitan dengan astronomi. Bangunan observatorium ada dimana-mana, baik pelbagai model matematika dan fisika tentang alam semesta diciptakan untuk menghitung jarak antar pelbagai bintang dan planet. Ukuran bumi dihitung hingga ke tingkat yang sangat akurat, yang hanya dapat diketahui sekarang ini.

Dalam ilmu fisika, Al Biruni dan sahabatnya, Umar Khayam menulis subyek tentang gravitasi dan formula untuk menentukan berat absolut dan spesifik setiap benda. Perhatian tentang kaca dan lensa yang dilakukan para ilmuwan Bayt al Hikmah mengantarkan kepada ditemukannya teori-teori optik. Ibnu al Haitham, yang menulis teori ini pada abad 10 boleh jadi soerang ilmuwan terbesar Muslim yang mengabdikan dirinya dalam bidang optik. Dia adalah penulis banyak buku penting tentang tema ini. Buku Optik menjadi buku pertama yang membahas secara detail anatomi mata. Dia menolak pandangan klasik bahwa sirna yang datang dari mata, namun yang benar adalah bahwa mata memantulkan sinar dari obyek lainnya.

Penemuan para pemikir Muslim lainnya juga terjadi padang bidang pertanian dan irigasi. Ibnu al Haitham telah mengajukan proyek bendungan sungai Nil pada awal abad 10 , dan kemudian proyek ini baru dapat direalisasi pada abad 20. Bendungan, tadah air dan danau buatan dibangun di seluruh dunia Islam dan beberapa sistem yang mereka kembangkan ini masih berjalan hingga sekarang. Para insinyur Muslim menyempurnakan pelbagai metode roda air  yang digerakkan oleh manusia, binatang, angin, sungai maupun tenaga gelombang.

2000px-Qanat_cross_section.svgPembangunan sumur dan sistem air dibawah tanah yang dikenal dengan nama qanat menuntut ketrampilan teknik yang tinggi. Beberapa qanat sedalam 15,5 meter dan dibangun dengan sedikit condong memanjang agar dapat mengalirkan air tanah.  Qanat tersebut juga diberi lubang manusia untuk perawatan dan pembersihan. Dengan dibangun dibawah tanah, mereka dapat mengurangi kehilangan air karena penguapan seminimum mungkin.

Pertanian di Timur Tengah sangat tergantung kepada irigasi dan beberapa buku penting ditulis tentang analisis tanah, air dan jenis tanaman yang cocok untuk dikembangkan. Perhatian yang tinggi terhadap tanam-tanaman bagi kebutuhan nutrisi dan kedokteran berkembang dengan pesat.  Mereka memperkenalkan tanaman-tanaman seperti kapas, padi, mullbery, citrus, cherri dan semua tanaman yang dapat dikembangkan di tanah dan iklim yang baru ini dari timur hingga barat. Teknik-teknik vegetatif dijalankan dengan ketrampilan tinggi, terutama di Afrika Utara dan Spanyol.

Ilmu tumbuhan dan hewan berkembang aktif dan beberapa karya tentang itu seperti Kehidupan Binatang al Damiri berisi banyak bahan yang menarik. Dalam bidang botani atau tanaman, Abu Hanifa al Dinawari, ilmuwan  pada abad 10 memberikan kontribusi yang penting.

Sepanjang periode klasik Islam, aktivitas intelektual dalam banyak hal berkembang pesat, pertama di Baghdad, kemudian di Kairo dan ibukota-ibukota lainnya seperti Anatolia, Iran dan kemudian India. Bangsa Arab menerima warisan klasik, namun kemudian menyuburkannya dengan pemikiran India dan Timur untuk dielaborasi, dikritik dan diluruskan. Mereka kemudian meneruskan warisan itu ke Barat sehingga membentuk dasar pencapaian teknologi dan peradaban yang mengubah dunia hingga sekarang.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *