Survey: Islamophobia di Eropa Mencapai Tingkat yang Mengkhawatirkan (1)

Berikut ini tulisan dua seri tentang Islamophobia di Eropa yang mencapai titik mengkhawatirkan, yang diambil dari  riset SETA,  sebuah lembaga penelitian di Turki yang dimuat di laman Dailysabah.

Survey terbaru yang dilakukan oleh  Yayasan untuk Penelitian Politik, Ekonomi dan Sosial (SETA) menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas Islamophobia  di  jalanan,  kehidupan bisnis, media massa, lingkungan politik   pada 25 negara Uni Eropa dimana ratusan Muslim di Eropa menghadapi ujar kebencian dan serangan fisik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam laporan setebal 582 halaman, SETA menyebutkan bahwa pasca serangan atas Charlie Hebdo dan Saint Denis di Paris pada 2015 dan krisis imigran menjadi titik balik penyebaran Islamophobia dan ujar kebencian di Uni Eropa.  Islamophobia juga disebutkan sebagai faktor pendorong kuat radikalisasi di kalangan pemuda Muslim di Eropa.

Salah satu alasan dibalik radikalisasi pemuda Muslim di Eropa dipandang sebagai kegagalan mereka untuk diterima sepenuhnya dalam masyarakat Eropa, meskipun mereka dilahirkan dan dibesarkan di Eropa serta memiliki paspor Eropa. Dalam penelitian di 25 negara Eropa Barat, dimana kebanyakan  ujaran kebencian dan serangan fisik diarahkan kepada Muslim, maka disitu pula aksi terorisme meningkat. Negara-negara di Eropa Utara berbeda dengan negara-negara Eropa lainnya, karena tidak adanya catatan signifikan aksi Islamophobia baru-baru ini. Negara-negara Eropa Utara dapat diklasifikasinya sebagai negara-negara yang terdampak dengan aktivitas teroris dan Islamphobia di Eropa Tengah dan Barat.

DI Eropa Tengah dan Timur, Islamphobia meningkat lebih karena didorong krisis pengungsi  di Eropa ketimbang aktivitas terorisme di negara-negara Uni Eropa. Islamphobia di Eropa Selatan, seperti di Yunani dan Italia terjadi karena negara-negara tersebut menjadi tempat pertama yang dijangkau para pengungsi sebelum  masuk ke negara-negara Uni Eropa lainnya. Sementara aksi terorisme terbaru menjadi daya dorong tambahan.

Islamophobia dan Terorisme Menjadi Faktor Pemicu yang Saling Berkelindan

Di Perancis, Islamophobia meningkat sebanyak 500 persen setelah serangan teroris. Aksi Islamophobia memberikan pesan bahwa Muslim di Uni Eropa “tidak diterima disini”. Menurut peneliti SETA, Islamophobia dapat menyebabkan Muslim gagal beradaptasi dengan nilai-nilai Uni Eropa dan dampaknya mereka beralih ke radikalisme.

Menjawab pertanyaaan apa yang harus dilakukan untuk mencegah penyebaran Islamophobia, hasil riset itu rekomendasikan bahwa aksi Islamophobia seharusnya tidak hanya dianggap diskriminasi, namun juga tindak pidana dimana kepolisian dan sistem peradilan di Eropa harus mencatat dan memproses pelbagai insiden Islamophobia.

“Hampir tidak ada pengakuan Islamophobia seiring bangkitnya partai-partai sayap kanan di Eropa,” simpul peneliti SETA.

SETA menggambarkan kegiatan terorisme sebagai hasil dari generasi Muslim yang hilang  di negara-negara Arab dan Eropa. Sementara meningkatnya Islamophobia dan problem kemiskinan telah menyebabkan radikalisasi dan membuka jalan keikutsertaan mereka dengan organisasi ekstrim seperti Daesh dan sejenisnya.

Islamophobia di Eropa Utara

Finlandia: Kebanyakan Muslim di Finlandia berasal dari Irak, Somalia, Kurdi, Turki, Albania, Iran dan Bosnia, yang memiliki pelbagai latar belakang, seperti pengungsi, studi, reuni keluarga atau karena alasan pekerjaan. Rencana pembangunan Masjid di Hensinki sempat diprotes warga sekitar karena dianggap dapat membangkitkan radikalisasi, polusi suara, keributan dan kesemerawutan.

Menurut laporan, salah seorang inisiator aksi menentang pembangunan masjid berdalih: “Tidak ada agama selain Islam yang banyak melakukan kekerasan, kebencian, pembunuhan dan aksi terorisme.” Di Finlandia, aksi anti Muslim yang melonjak signifikan di dunia bisnis dan pendidikan tidak banyak dicatat. para politisi dari partai-partai kanan seperti Partai Finlandia dan Muutos kerap membuat pernyataaan Islamophobia tentang pengungsi. Mereka menentang migrasi dengan banner yang bergambar wanita bermata biru sedang mengenakan cadar dan bertuliskan, “Masa Depan Finlandia?” dan “Kendalikan Migrasi”. Disamping itu banyak blog dan berita online yang mendorong Islampohobia. Sebuah blog misalnya menuliskan: “Islam bukanlah agama, namun institusi politik”. Mereka juga  mengaitkan Islam dengan aksi pedophilia.

Norwegia: adalah salah satu negara Eropa Utara dimana tindak Islamophobia dan rasisme meningkat drastis setelah serangan teroris di Eropa. Partai sayap kanan bertanggung jawab memobilisasi dukungan untuk menciptakan ketakutan terhadap Islam dan Muslim. Aksi protes yang diilhami oleh PEGIDA (kelompok anti Islam di Jerman) terjadi di Oslo  menyebarkan sentimen anti Muslim. Seorang pria, 30 tahunan yang diwawancarai reporter TV Swasta TV2, Kadafi Zaman, penduduk Norwegia berasal dari Pakistan mengatakan: “Disini kami menunjukkan kebencian kami kepada bajingan Muslim seperti anda. Imigran kotor seperti anda,” sambil meniupkan asap rokok ke muka reporter tersebut.

Islamophobia skyrockets in Europe since Charlie Hebdo attack, report says

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *