Survey: Islamophobia di Eropa Mencapai Tingkat yang Mengkhawatirkan (2)

Islamophobia di Eropa Tengah dan Timur

Kroasia: Islamophobia meningkat karena tiga hal: pertama, terjadi pembunuhan atas penduduk Kroasia, Tomislav Salopek oleh Daesh di Mesir, kedua, Kroasia dijadikan rute pengungsian oleh para imigran dan ketiga, penggunaan wacana Islamophobia untuk tujuan politik.

Laporan SETA mengungkapkan bahwa setelah pemilu November di Kroasia, beberapa partai sayap kanan mengekspresikan kecenderungan Islamophobia dengan mengatakan bahwa arus pengungsi dari Rusia, Afghanistan dan Irak menjadi ancaman atas tradisi lokal dan gaya hidup mereka. Kekhawatiran kehilangan pekerjaan karena kedatangan pengungsi dan wacana politik anti Muslim tidak pelak menjadikan aktivitas anti Muslim dan Islamophobia meningkat drastis di Kroasia. Anggota Koalisi Patriotik mengatakan: “Anak-anak pengungsi semuanya sama, namun tidak sama dengan anak-anak keturunan Eropa”. Beberapa politisi dan media juga menyatakan bahwa Muslim adalah “bahaya” bagi Eropa lama.

 Polandia: Negeri itu juga tidak kebal dengan Islamophobia meskipun jumlah Muslim di negara itu sangat sedikit. Alasan dibalik meningkatnya Islamophobia sama dengan negara-negara Eropa lainny, yakni adanya serangan terorisme dan krisis pengungsi. Menurut sebuah riset, 80 persen rakyat Polandia tidak mengetahui Muslim, namun 73 persen diantaranya memiliki persepsi negatif terhadap Muslim, maka dapat dijelaskan jika persepsi negatif mereka lebih banyak dipengaruhi oleh wacana media dan para politisi.

Hungaria: secara historis memiliki sikap positif terhadap Islam, namun ada peningkatan tindak intoleransi dan sikap negatif terhadap Islam belakangan ini. Jumlah tertinggi pelamar suaka pertama kalinya pada triwulan terakhir di 2015 terdaftar di Jerman dan Hungaria. Kebanyakan mereka berasal dari Suriah, Afghanistan dan Irak. Dengan pelamar mencapai 100 ribu, Hungaria mengalami peningkatan 13 kali lipat dari 2014. masuknya imigran yang tidak terkendali mendorong sentimen anti Muslim dan Islamophobia di Hungaria. Beberapa politisi Hungaria ikut dalam kampanye seperti “Hungaria bagi Hungaria” dan “Jangan jadikan Hungaria sebagai Marseille di Eropa Timur dan Tengah”. Salah satu pernyataan yang menarik perhatian adalah komentar PM Victor Orban yang menyatakan bahwa “Hungaria penah berada dibawah kekuasaan Usmani selama 150 tahun sehingga ini cukup menjadi alasan Hungaria tidak mau hidup berdampingan dengan Muslim lagi.”

Islamophobia di Eropa Barat

Perancis: Negara Eropa Barat dengan penduduk Muslim terbesar, dimana retorika anti Muslim dan Islamophobia meningkat 500 persen. Serangan teroris atas Charlie Hebdo dan Saint Denis memancing aksi Islamophobia di Perancis. Para masjid dan para imam menjadi sasaran serangan dan definisi sekularisme Perancis sendiri merefleksikan semangat anti Islam. Laporan Harian Le Monde, 23 Januari menyatakan bahwa sejak awal 2015, tindakan anti Muslim dalam satu bulan hampir sama dengan aksi serupa sepanjang satu tahun pada 2014. Diantara insiden yang memancing perhatian disepanjang serangan Charlie Hebdo dan Saint Denis adalah diskriminasi terhadap muslimah berjilbab karena mereka tidak memiliki kesempatan mendapatkan pekerjaan kecuali di lingkungan mereka sendiri, larangan pemakaian jilbab di kampus dan meningkatkan kampanye penerimaan pengungsi kristen untuk menggantikan pengungsi muslim.

Ghettoisasi (pengisolasian) adalah problem lain yang terhubung dengan praktik Islamophobia di Perancis. Laporan yang dikutip Montpellier menyebutkan sekolah menengah atas Las Cazes menerima 95 warga Perancis asal Maroko. Para ibu murid sekolah itu mengatakan bahwa pemerintah telah mempraktikkan “pemisahan (apartheid) sosial” setelah serangan Hebdo. Salah satu pemimpin Muslim lokal menyatakan:“Kami ingin anak-anak kami, yang menjadi warga negara Perancis, dianggap dan dididik seperti yang lainnya. Bagaimana anda mengharap mereka menjadi Perancis jika mereka dipaksa tumbuh secara eksklusif dalam lingkungan mereka sendiri?” Laporan juga menyebutkan bahwa beberapa walikota hanya bersedia dan memprioritaskan pengungsi kristen. Laporan juga menyebutkan bahwa pada 2015, setidaknya tercatat 63 serangan terhadap masjid di seluruh negeri, termasuk 7 pembakaran yang merusak sebagian atau seluruh properti masjid. Tercatat pula tiga serangan teroris terhadap masjid yang berhasil digagalkan.

Jerman: adalah negara Uni Eropa yang paling kuat secara ekonomi. Tahun 2015 menjadi tahun kebangkitan PEGIDA (Gerakan Eropa Patriotik melawan Islamisasi Barat), masuknya para pengungsi dari Timur Tengah dan Afghanistan dan meningkatkan bias media terhadap Muslim. Gerakan PEGIDA sejenis kemudian bermunculan di negara-negara Uni Eropa. Sebuah laporan dari Kemendagri Jerman menyebutkan bahwa sekitar 25 ribu aktivis PEGIDA berkumpul di Dresden pada 2014. Menurut laporan itu, kebanyakan kekerasan dan ujaran kebencian berasal dari gerakan PEGIDA. Ketika PEGIDA melakukan beberapa kali demonstrasi di Berlin, serangan terhadap Muslim meningkat di sepanjang 2015. Di luar itu, sebuah laman online Politically Incorect (PI-News) mendukung ideologi sejenis PEGIDA memasang banner dengan gambar  seorang perempuan seksi  dan berambut pirang dan coklat mengatakan “Islamophobia namun seksi”/”Maria daripada Sharia” dan bikini mereka bertuliskan “Zona Bebas Burka”. Laporan Maret 12015 juga menyebutkan bahwa pengadilan konstitusional memutuskan  untuk memberikan otoritas  kepada sekolah apakah menerima guru berjilbab atau tidak serta apakah seseorang atau perempuan berjilbab dianggap sebagai ‘ancaman langsung’ atau tidak. Ada setidaknya 850 kali serangan atas pusat pencari suaka dan dalam tiga bulan terakhir 2015 , 13 orang terluka karena serangan tersebut.

Inggris: Pada 2015, retorika anti Islam meningkat tajam yang disusul dengan kemenangan mengejutkan partai konservatif. Laporan menyebutkan sebagai akibat serangan Charlie Hebdo, representasi Muslim di media dan wacana politik menjadi buruk. Menurut laporan tersebut, retorika Islamophobia digunakan dan menjadi normal di Inggris. Henry Jackson Society (HJS) adalah diantara organisasi-organisasi yang mengembangkan kampanye neo konservatud dengan anti Muslim dan pro Israel. Diskriminasi di tempat kerja terjadi, dimana para perempuan berjilbab sulit mendapatkan pekerjaan atau sering dimaki oleh pimpinan mereka. Laporan menyebutkan bahwa lebih dari 76 persen pria Muslim sulit mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan koleganya, kulit putih dan kristen. Laporan tersebut menyebutnya sebagai “hukuman bagi Muslim”.

Belgia:  diguncang oleh beberapa kali serangan teroris pada Maret 2015, Muslim disana mencakup 6 persen dari seluruh jumlah penduduk, umunya berasal dari Maroko dan Turki. Kegiatan Islamohobia secara signifikan meningkat setelah serangan atas  Charlie Hebdo dan beberapa kali serangan di Belgia. Dibenarkan sebagai cara menyingkirkan simbol agama dari sekolah, pakaian panjang secara resmi dilarang dikenakan di sekolah Katolik pada April 2015. Mahinur Özdemir, politisi pertama yang mengenakan jilbab diusir pada Mei 2015. Özdemir dan beberapa politisi lainnya juga mendapatkan surat ancaman. Pada akhir 2014, seiring meningkatnya Islamophobia, sebuah laman online memasang gambar Nabi SAW yang disandingkan dengan Hitler sambil mengeluarkan kata-kata makian.

Islamophobia di Eropa Selatan

Islamophobia skyrockets in Europe since Charlie Hebdo attack, report says

Yunani: Alasan dibalik meningkatnya Islamophobia di Yunani karena gelombang kedatangan pengungsi dan imigran, diantaranya para pengungsi Suriah yang mencoba masuk negara-negara Uni Eropa melalui Yunani. Ada tiga peristiwa signifikan yang menandai bangkitnya Islamophobia, yakni rencana pembangunan masjid di Athena, masuknya pengungsi dan serangan di Paris. Masjid yang direncanakan sejak 1970-an itu kemudian mendapatkan ijin dari pemerintah, namun mendapat tentangan keras dari para politisi sayap kanan. Tentang masalah pengungsi, terdapat lebih dari 700 ribu pengungsi yang datang ke Yunani sebagai jalan masuk ke negara-negara Uni Eropa, dan pada akhir tahun 2015 mencapai 800 ribu. Kelompok kanan menentang masuknya imigran. Pasca serangan Paris, seorang kolumnis kenamaan Yunani menyatakan bahwa Islam bukanlah agama seperti lainnya, karena karakternya perang dan selalu curiga. Islam adalah program politik dan ideologi barbar.

Italia: Ada sekitar 1,6 juta pemeluk Muslim dari 5 juta orang asing di Italia. Fenomena Islamphobia di Italia terjadi karena ada perasaan tidak aman di seluruh Eropa. Salah satu juran kebencian yang paling banyak menarik perhatian adalah headline koran Liberoon pada 14 November 2015 yang menyebut Islam : “Bastardi Islamici”, yang justru dipuji para politisi sayap kanan. Masjid juga menjadi target serangan di  Padova, Rimini and Battipaglia.

Kepla babi ditemukan tergantung di gerbang masjid  Giugliano. Menurut survey yang dilakukan Eurobarometer, 39 persen warga Italia tidak nyaman dengan Muslim dan 41 persen lainnya tidak khawatir anaknya berkenalan dengan Muslim.

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *