Tragedi Nakhbah Palestina: Dari Napoleon Hingga Zionis

Istilah Nakhbah yang berarti bencana merupakan pengingat dari dua peristiwa penting dalam sejarah Palestina, yakni: berdirinya negara Israel pada 1948 dan pengusiran 800 ribu penduduk Palestina dari kampung halaman leluhurnya.

Kata ini tidak hanya menjadi simbol tragedi sebagai akibat terusirnya rakyat Palestina pada 1948, namun juga ujian dan cobaan yang menyertainya selama berada dalam pendudukan Israel selama beberapa dasawarsa.

Nakhbah adalah kisahย tragedi kemanusiaan: pengusiran paksa 800 ribu warga Palestina dan penghancuran kebanyakan warisan politik, ekonomi, dan budaya Palestina setelah berdirinya negara Yahudi Israel.

Permulaan

Istilah Nakhbah pertama kali digunakan untuk menggambarkan petaka oleh seorang intelektual Suriah Constantin Zureiq 1919-2000) dalam bukunya, “Makna Nakhbah” yang diterbitkan pada 1948 untuk menjelaskan perkembangan perang Arab-Israel 1948.

Bagi Zureiq, perang rakyat Palestina adalah “Nakhbah” sejak dari awal.; pukulan ganda baik terhadap nasionalisme Arab maupun perjuangan anti kolonialisme. Bagaimanapun, Palestina adalah bagian dari “bangsa Arab” seperti yang diimpikan oleh para pemimpin Arab.

Anaheed al Hardanm, sosiolog dari Institut Berlin untuk Penyelidikan Budaya berpendapat bahwa persepsi Zureig tentang Nakhbah tidak diragukan menekankan tentang pengusiran rakyat Palestina, namun isu ini sendiri bukan menjadi keprihatinan utamanya.

Namun, ini hanya menjadi satu elemn dari banyak hal yang terjadi sejak berdirinya Israel di tanah rakyat Palestina -yang menjadi “bencana” yang paling mendasar.

Dari sudut pandang geopolitik, penjajahan Palestina adalah pukulan mematikan terhadap gagasan “Nakhbah” yang berkara dari kesadartan kolektif rakyat Palestina/bangsa Arab dalam beberapa tahap dari 1948 hingga sekarang.

Pada 1908-an, misalnya, gagasan Nakhbah secara khusus berkaitan dengan perjuangan rakyat Palestina dan tidak lagi menjadi perhatian Arab, seperti sebelumnya dalam 4 dekade.

Namun, seiring terabaikannya nasib pengungsi Palestina dalam perjanjian Oslo 1, yang ditandatangani oleh PLO dan Israel -maka istilah itu kini lebih terkait dengan perjuangan diaspora Palestina.

Pembantaian

Nakhbah Palestina/Arab merupakan serangkaian peristiwa -dari penjajahan atas kebanyak tanah Palestina oleh kelompok-kelompok bersenjata Zionis dan pengusiran sekitar 800 ribu warga Palestina yang berlangsung hingga kini.

Nakhbah juga termasuk penghancuran lebih 675 kota dan desa Palestina, perpindahan kota-kota Palestina menjadi Yahudi, pengusiran suku-suku Badui yang dulunya tinggal di kawasan Negev (kini Israel selatan), upaya penghancuran identitas nasional Palestina, dan penggantian nama-nama Arab dengan Yahudi.

Nakhbah juga berlaku untuk pelbagai pembantaian dan kekejaman yang dilakukan pelbagai kelompok Zionis atas warga Palestina dimana ribuan pria, wanita dan anak-anak tewas karenanya.

Napoleon

Ketika para politisi Palestina memilih 15 Mei 1948 sebagai “Hari Bencana”, maka tragedi kemanusiaan ini berawal jauh sebelumnya ketika pelbagai kelompok Zionis menyerang kota dan desa Palestina serta meneror para warganya agar meninggalkan kampung halaman.

Nakhbah mulai ketika kantor luar negeri Inggris pada 2 November 1917 menyerukan “pembentukan rumah nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina”, yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi Balfour, nama Menlu Inggris Sir James Balfour.

Inggris menerapkan Deklarasi Balfour ketika pasukan Inggris yang dipimpin oleh Marsekal Udara Edmund Allenby menginvasi dan menduduki Yerusalem pada Desember 1917.

Penaklukan Yerusalem secara efektif mengakhiri dominasi Imperium Usmani yang dikalahkan dalam Perang Dunia I atas Palestina, sehingga memberikan jalan kepada pelbagai organisasi Zionis, terutama Badan Yahudi.

Para peneliti lainnya bahkan berpendapat Nakhbah telah dimulai jauh sebelum itu.

Rawan Damen, sutradara pemenang penghargaan film dokumenter 4 seri yang berjudul “Al Nakhbah” berpendapat bahwa Nakhbah berawal pada 1799 ketika rencana kolonial Napoleon Bonaparte yang memasukkan gagasan untuk mendirikan negara yahudi di Palestina.

Gagasan ini menggema hingga Inggris pada 1840 dan kemudian difasilitasi oleh pemerintahan mandat Inggris (1922-1948) yang memberikan hak kepada Badan Yahudi untuk merampas tanah rakyat Palestina dan mulai melakukan imigrasi massal ke kawasan itu.

Dari Mandat ke Penjajahan

Pada 1945, para pemimpin Zionis mulai membentuk kelompok-kelompok Yahudi bersenjata sebagai upaya mengantisipasi bentrokan dengan penduduk Palestina.

Rencana “Mei 1946” misalnya dilakukan oleh kelompok terorisย Haganah yang kemudian menjadi embrio angkatan bersenjata Israel.

Pada 29 November 1947, Sidang Umum PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan pembagian Palestina menjadi dua negara, Yahudi dan Palestina.

Resolusi tersebut disambut oleh Zionis, namun ditolak keras oleh negara-negara Arab pada umumnya dan rakyat Palestina pada khususnya.

Pada hari berikutnya, Haganah mengambil alih semua wilayah yang ditetapkan PBBย untuk negara Yahudi.

Dengan berakhirnya mandat Inggris pada 14 Mei 1948, pelbagai kelompok teroris Zionis yang dipimpin Ben Gurion yang kemudian menjadi PM Israel pertama menyatakan pendirian negara Palestina dan menyerukan kembalinya bangsa Yahudi ke apa yang disebutnya sebagai “tanah air sejarah”.

Deklarasi ini disusul dengan masuknya pasukan Arab dari Mesir, Suriah, Irak dan Transyordania ke Palestina yang pada akhirnya berhasil dikalahkan. Perang berakhir pada 3 Maret 1949 setelah Dewan Keamanan PBB menyatakan dukungannya kepada Israel sebagai anggota penuh PBB.

Mitos-Mitos Zionis

Ada 3 mitos utama Zionis yang berupaya mencari pembenaran atas invasi dan pendudukan Palestina.

Pertama, gagasan adanya “tanah tanpa penduduk untuk penduduk tanpa tanah”, konsep terus dihidupkan oleh penulis Zionis Inggris, Israel Zangwill.

Propaganda Zionis ini digunakan untuk menjustifikasi pendudukan berdasarkan klaim bahwa tanah Palestina masih banyak yang belum ditinggali. Langkah yang disebut sebagai upaya untuk tidak mengakui keberadaan rakyat Palestina.

Mitos Yahudi penting lainnya adalah bahwa Israel telah ada di Palestina 2,070 tahun sebelumnya.

Pada 1897, Organisasi Zionis Sedunia menyelenggarakan konferensi pertama di Basel, Swiss dimana Theodore Herzl yang disebut sebagai pendiri Zionisme Modern meletakkan prinsip-prinsip negara ย Yahudi.

Herzl berupaya keras mendapatkan persetujuan internasional bagi proyek Zionis ini dan pada akhirnya mendapatkan dukungan Inggris.

Mitos ketiga Zionis adalah bahwa rakyat Palestina telah menjual tanahnya secara sukarela, klaim ini digunakan untuk menjustifikasi berdirinya Israel. Walaupun pada kenyataannya, kepemilikan mereka tidak lebih 5 persen pada waktu itu.

Surga yang Hilang

Nakhbah akan tetap menjadi simbol pengusiran massal ratusan ribu rakyat Palestina pada 1949. Namun juga menjadi tanda bagi berlangsungnya harapan bahwa mereka kelak pada akhirnya akan kembali ke kampung halamannya yang telah lama hilang.

Resolusi 194 PBB menegaskan bahwa “para pengungsi yang berkeinginan untuk kembali ke rumah-rumah mereka dan hidup dengan damai dengan tetangga-tetangganya harus diijinkan untuk melakukan itu dengan jadwal yang ditetapkan sejak awal.”

Selanjutnya, “kompensasi harus dibayarkan atas harta benda mereka yang tidak ingin kembali dan atas kehilangan dan kerusakan harta benda mereak dibawah prinsip-prinsip hukum internasional atau ekuitas yang ditetapkan pemerintah atau otoritas yang bertanggung jawab.”

70 tahun setelah Nakhbah, sejumlah pengungsi Palestina, termasuk anak-anak dan cucu kini telah mencapai 4 juta. Kebanyaknya mereka tinggal dalam permukiman kumih di Tepi Barat dan Jalur Gaza serta beberapa negara Arab tetangga, seperti Suriah, Lebanon dan Yordania.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *