Turki dan Qatar Tolak Serahkan 53 Pimpinan Ikhwanul Muslimin ke Mesir

Qatar dan Turki memberitahu Mesir perihal penolakan mereka untuk menyerahkan 53 warga Mesir yang dituduh sebagai pimpinan Ikhwanul Muslimin untuk diadili. Nama-nama yang dituntut Mesir diantaranya adalah ketua Persatuan Ulama Internasiona, Syeikh Yusuf Al Qaradawi.

Pejabat senior rejim Abdel Fattah al Sisi yang naik lewat kudeta berdarah pada 2013 mengonfirmasi penolakan Turki dan Qatar pada Januari.

Mereka dituduh rejim Sisi terkiat dengan tindakan terorisme melawan negara dan mengobarkan kebencian terhadap Revolusi 30 Juni. Sumber tersebut menyebutkan bahwa mayoritas mereka adalah anggota Ikhwanul Muslimin, meskipun dalam kenyataannya berasal dari kalangan intelektual yang memiliki afiliasi politik yang berbeda.
 
Sumber yang tidak disebutkan namanya menyebutkan bahwa kantor kementerian kehakiman Mesir mengirim permintaan via saluran diplomatik kepada 80 negara asing, termasuk Qatar dan Turki untuk memberikan bantuan hukum dan menyerahkan para terdakwa di negara-negara tersebut sesuai dengan perjanjian bilateral dan internasional mereka dengan Mesir.
 
Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa beberapa negara seperti Kuwait dan Arab Saudi menyerahkan beberapa terdakwa di negara mereka, sementara 7 negara lainnya tidak memberikan jawaban atau menyerahkan nama-nama yang diminta.
 
Beberapa nama yang diserahkan kepada aparat keamanan Mesir adalah Tarek Al Zumar, Sekjen Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP), YehiaHamed, mantan menteri investasi dalam pemerintahan Hesham Qandil, Mohammad Al Jawadi yang dituduh sebagai pemimpin aliansi Ikhwanul Muslim, serta ulama anti Sisi, Syeikh Wagdi al Ghoneim dan Waleed Sharabi, juru bicara “Koalisi Hakim untuk Mesir“.
 

Daftar tersebut juga termasuk pemimpin Ikhwanul Muslimin Mahmoud Ezzat, Gamal Abdel Sattar, mantan profesor Al Azhar dan kepala Asosiasi Ulama Sunni, jurnalis Al Jazeera Wael Qandil serta analis politik Mohammed Al Quddusi, direktur berita Al Jazeera Ibrahim Mohammed Hilal serta pembawa berita Al Jazeera Ahmad Mansour.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *