Turki Melihat Pengungsi Suriah sebagai Asset, Bukan Beban

Anggota parlemen  dan juga Komite Hubungan Luar Negeri AKP kamis menegaskan adanya perbedaan respon Turki dan Eropa tentang krisis pengungsi Suriah.

Dalam acara di London yang mendiskusikan perang Turki dan Eropa dalam krisis ini, Talip Kuçukcan mengatkan:

Turki sepenuh hati mendukung para pengungsi di negaranya dan “200 ribu anak-anak Suriah dilahirkan di Turki” namun “Kami melihat mereka sebagai asset bagi Turki bukan beban. Ini adalah salah satu banyak perbedaan antara negara-negara Eropa dengan Turki.”

Laporan dunia terbaru tentang kontribusi imigran atas ekonomi “sangat positif”, tambahnya.

Berkaitan dengan perjanjian pengungsi Turki-Uni Eropa tahun ini, Kucukcan mengatakan bahwa Uni Eropa sejauh ini gagal memenuhi janjinya membiayai proyek di Turki dan mengkritik blok ini karena meminta Turki mereformasi UU terornya untuk kesepakatan visa.

“Bagi kami ini penting karena masalah keamanan nasional, masalah hidup dan mati. Memerangi terorisme adalah isu yang akan terus berlanjut,” ungkapnya.

Perjanjian Turki-Uni Eropa berupaya mencegah migrasi melalui Laut Aegean, dengan mengambil langkah tegas terhadap para penyelundup manusia dan memperbaiki kondisi para pengungsi Suriah di Turki.

Berbicara dalam acara yang diorganisir oleh Uni Demokrat Turki Eropa di Parlemen Inggris. Lord Qurban Hussain ditunjuk untuk memimpin forum ini.

Dia mengatakan bahwa dia mengagumi “pemerintah Turki yang merawat pengungsi dengan baik”, setelah melihat dengan mata kepala sendiri keadaan pengungsi di Turki dalam kunjungannya baru-baru ini.

 

 

 

He said he admired the “Turkish government for looking after refugees so well,” after seeing first-hand the conditions of refugees during a recent visit to Turkey.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *