Turkistan Timur (Xinjiang): Jalur Persimpangan Peradaban Dunia

2200 tahun sejarah Turkistan (Xinjiang) telah memainkan peran sebagai tuan rumah bagi beberapa peradaban besar di dunia. Wilayah ini mencakup kawasan yang luas membentang dari Laut Kaspia dan bagian selatan Pegunungan Ural di barat, Siberia di utara, Iran, Afghanistan dan Tibet di Selatan, China dan Mongolia di sebelah timur.

Kini, bagian Turkistan yang mencakup negara Kazakhstan, Kyrigystan, Tajikistan, Uzbekistan dan Turkmenustan dikenal sebagai Turkistan Barat dan wilayah yang dibawah pendudukan China disebuat sebagai Turkistan Timur. Geostrategis Turkistan terlihat jelas dalam ambisi dan sepak terjang dua negara besar, Rusia dan China di kawasan tersebut. Kedua negara memainkan peran penting dalam sejarah Turkistan. Inilah salah satu alasan mengapa Turkistan dibagi menjadi dua kepentingan hingga kini.

 

East Turkestan

Kedua negara (China dan Rusia) tersebut menolak untuk menyerahkan dua wilayah itu berapapun biayanya karena posisi strategis dan kaya sumber daya alam. Bagi rusia, negara-negara Turki di Barat dan China untuk Turkistan Timur adalah cadangan penting bahan-bahan mentah.

Menyusul revolusi Bolshevik, Rusia membangun mekanisme kontrol di Turkistan Barat dimana negara-negara yang terdiri atas beragam etnik Turki bediri. Wilayah itu dinama “Asia Tengah Soviet”, untuk menggantikan nama Turkistan yang telah dipakai ratusan tahun lamanya.

Tujuannnya untuk menjauhkan diri dari kesadaran bersama indentitas nasional Turki. Elemen paling penting kebijakan Rusia di kawasan ini adalah mengeliminasi identitas Islam secara menyeluruh. Di sepanjang periode ini, sejumlah hukuman diterapkan untuk merusak budaya nasional mereka, sementara masjid-masjid dan tempat-tempat pendidikan agama ditutup. Agama diputus dari kehidupan sosial mereka. Etnik Turki Krimea ditangkap dan diusir ke Siberia hanya dalam semalam, sementara penduduk Rusia dipindah ke kawasan tersebut menduduki rumah dan tanah mereka. Lebih jauh, konflik etnik dikobarkan diantara negara-negara Asia Tengah. Bentuk asimilasi berikutnya adalah warga Turki dipaksa menguasai Rusia sebagai bahasa kedua mereka disamping bahasa ibu.

Turkistan Timur menderita penderitaan yang sama dengan apa yang dialami dengan Turkistan Barat, namun dengan cara yang lebih brutal. Di pertengahan 1700-an, Turkistan Timur diinvasi oleh China. Perubahan politik yang terjadi di kawasan itu mencegah keinginan rakyat Turkistan Timur untuk mendeklarasikan kemerdekaannya. China, negara dengan total wilayah 10 juta Km persegi berupaya menyingkirkan Turkistan Timur yang cukup memiliki wilayah yang sangat luas, yakni sekitar 2 juta km persegi) dengan penindasan dan isolasi.

Sama seperti Rusia di Turkistan Barat, China juga mengubah nama wilayah tersebut. Nama baru yang mereka gunakan adalah “Wilayah Otonom Uighur Xinjiang“. Mereka mulai memberlakukan beberapa kebijakan sejenis yang digunakan oleh negara-negara imperialis. Perang brutal terjadi terhadap keyakinan, adat istiadat dan agama penduduk setempat. Dikriminasi etnis terjadi dan setiap tuntutan bagi kebebasan ditindas. Rakyat yang tidak berdaya dipaksa pindah dari kampung halaman sedangkan penduduk  China dipindah menggantikan posisi mereka.

Turkistan Timur: Cahaya Peradaban Islam

Sejarah tanah Turkistan kembali pada abad ketiga SM. Wilayah ini menjadi tempat kediaman bangsa Turki sejak awal sejarah dan masa Islam ribuan tahun lamanya. Meskipun tidak ada negara atau khanate yang didirikan menggunakan nama Turkistan, wilayah yang dimaksud mencakup  Asia Tengah.  Para peneliti menggambarkan Turkistan Timur  sebagai salah satu pusat peradaban pertama  disebabkan posisi geo strategisnya., dimana budaya Barat dan Timur berpadu.

East Turkestan map

Dari 751 hingga 1216, Turkistan Timur menjadi bagian wilayah otono Khanate Hun Turki dan menikmati kemerdekaannya secara penuh. Peta diatas menunjukkan rute yang diambil oleh bangsa Huns selama migrasinya ke selatan, barat dan hingga ke Eropa.

East Turkestan map

Goksturk adalah penduduk pertama yang menggunakan nama Turki. Mereka menyebar dalam wilayah yang luas dari Laut China hingga Laut Hitam. Etnik Turki masih mendiami wilayah luas dalam bekas batas wilayah imperium mereka, yang termasuk di dalamnya Turkistan Timur.

Wilayah ini pernah menjadi imperium besar dalam sejarah, menjadi bagian yang tidak terpisah dunia Islam setelah etnik Turki memeluk Islam pada masa Khalifah Abdul Malik Marwan (646/647-705). Antara 751-1216, setelah Satuk Bughra Khan (995-6) memeluk Islam, wilayah ini dikenal sebagai era keemasan Turkistan Timur. Disepanjang masa itu, para mahasiswa dari seluruh dunia berdatangan untuk belajar di sekolah-sekolah agama dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang ada di Turkistan. Para negarawan dan ilmuwan yang terkenal didunia juga dididik disana. Para penduduk Turki yang bermigrasi dari wilayah ini ke seluruh penjuru dunia membawa serta Islam bersama dirinya.

Ibn Sina

 Para cendekiawan Islam seperti Ibnu Sina (ditas), Mahmud al-Kashgari (samping) dan Al Farabi (gambar besar) adalah diantara contoh para ilmuwan yang berasal dari Turkistan.

Etnik Qarakhan, Ghazna, Khwarezm-Shah, Seljuq and Saidi yang dilahirkan di Turkistan mendirikan beberapa negara dengan panji Islam dan menjadi contoh luar biasa kultur Islam Turki yang memberikan kontribusi kepada umat manusia. Negarawan besar seperti  Satuk Bughra Khan (—/955-956), Seljuq Bey (—/ 1007), Mahmud Ghaznavi ( 998- 1030), Malik Shah (1055-1092), Timur (1336- 1405), and Babur Shah (1483-1530) adalah contoh pemimpin sukses yang lahir dari wilayah ini. Imam Bukhari, Imam Tirmizi, Ibn Sina (Avicenna), Abu Nasr al-Farabi (Avennasar), Narshaki, Zamakhshari dan Marginani, yang menghiasi perpustakaan Islam dengan karya-karya mereka, pengarang  Diwan Lughat at-Turk, Yusuf Khass Khadjib, pengarang  Kutadgu Bilig dan Ahmad Yuknaki, penulis karya besar Atabet’ul Haqayiq, juga tinggal di Turkistan, yang menjadi cahaya peradaban Islam. Para ulama ini menunjukkan pentingnya eksistensi dan kontribusi Turkistan Timur bagi Turki sendiri dan dunia Islam.

Kutadgu Bilig

Turkistan Timur Bukan Bagian China

Salah satu klaim yang dibuat China untuk menyembunyikan penindasan dan pelanggaran HAM di Turkistan Timur adalah bahwa wilayah itu merupkan bagian dari wilayah China, oleh karena itu masalah di kawasan itu harus dianggap sebagai bagian urusan domestik China. Namun, berdasarkan fakta sejarah, klaim tersebut tidak berdasar. Alasan pertama dan penting adalah pembangungan Tembok Besar China dilakukan dalam rangka mencegah serangan dari negara-negara lain terhadap mereka. Ini pertama kalinya, China membangun batas negaranya secara resmi yang menjadi gerbang menuju Turkistan Timur seperti yang disebutkan dalam buku Atlas China yang diterbitkan pada 1939.

Kawasan antara Tembok Besar China dan Laut Kaspia, Siberia, Iran dan perbatasan Afghanistan, Pakistan, Kasmir dan Tibert telah dikenal sebagai Turkistan tidak hanya dalam catatan-catatan awal Islam, namun juga dalam catatan sejarah Iran dan India. Ini juga diterima oleh banyak sejarahwan Barat. Nikita Bichurin salah satu Turkologist awal telah mendukung fakta sejarah ini dalam pernyataannya: “Sebuah negara yang hidup diantara Laut Kaspia dan Pegunungan Koh-i-Nur. Mereka berbicara dalam bahasa Turki dan beragama Islam. Mereka menganggap diri mereka sebagai etnik Turki dan menyebut negara mereka sebagai Turkistan.” Kemudian wilayah itu diberi mana baru “Xinjiang” (yang berarti perbatasan baru) menyusul invasi China. Namun hal itu tidak merubah fakta sejarahnya.

the great wall of china

 Tidak peduli bagaimana Komunis China mengkalim Turkistan Timur sebagai bagian wilayahnya, faktanya, tembok besar China diterima sebagai batas alami negara tersebut dan dapat merusak klaim sesat itu. 

Lebih dari 2000 tahun lamanya, antara 206 SM dan 1759 M, Turkistan Timur dapat mempertahankan kemerdekaannya selama lebih dari 1800 tahun. Selama era tersebut, Turkistan Timur terhubung dengan kekuasaan  Hun Turki dan Khanate Goktruk, pemerintah lokal yang berada dibawah kendali penduduk Turkistan Timur sendiri. Antara 751 dan 1216, Turkistan Timur benar-benar merdeka. Selama era itu pula, imperium China beberapa kali berupaya menduduki wilayah itu untuk mengendalikan Jalur Sutera,  namun dalam praktiknya hanya berlangsung singkat dan China tidak bisa menancapkan hegemoninya di Turkistan Timur. Dalam 2200 tahun  sejarah Turkistan Timur, hanya selama 570 tahun wilayah tersebut berada dibawah pendudukan China.

 Silk Road

Sepanjang sejarah, Jalur Sutera yang melewati Turkistan Timur memainkan peran penting bagi ekonomi China. Sekarang ini, ambisi China untuk mempertahankan Turkistan Timur dalam cengkeramannya karena peran geostrategis wilayah tersebut.

Ada fakta geografis lainnya yang menolak klaim China atas Turkistan Timur. Keseluruhan penduduk Turkistan Timur (bahasa, agama dan asal usul etnik dan warisan sejarah dan spiritualnya) menunjukkan hal yang berbeda dari China. Panku, sejarawan Dinasti Han (206 SM-220 M) menjelaskan fakta ini:

“Berkaitan dengan pakaian. makanan dan bahasa, bangsa barbar (Uighur) sepenuhnya berbeda dari Kerajaan Tengah… Gunung, lembah dan gurun tandus memisahkan mereka dari kita.”

East Turkestan

Perbedaan tersebut terjaga disepanjang sejarah. Tidak ada asimilasi selama era pendudukan China sebelumnya. Kini 54 persen penduduk Turkistan Timur ditaksir sekitar 17 juta (kini 21 juta), termasuk 47 persennya Uighur dan 7 persennya Kazakhs. (Data berdasar statistik China 1997 yang cenderung bias).  Uighur yang menjadi populasi terbesar Muslim tidak memiliki kesamaan etnik, agama dan bahasa dengan China. Alfabet Uighur terdiri atas huruf Arab, mereka semua Muslim dan memiliki adat istiadat Turki selama lebih dari 1000 tahun lamanya.

Periode Kemerdekaan Turkistan Timur 
Periode Pertama  Periode Hingga 206 SM
Periode Kedua Pemerintahan lokal dibawah Khanate Hun Turki, 206-108 SM
Periode Ketiga Pemerintahan lokal dibawah Khanate Hun Turki, 86-60 SM
Periode Keempat Pemerintahan lokal dibawah Khanate Hun Turki, 10 SM.-73 M
Periode Kelima Kemerdekaan Penuh , 74-554 M
Periode Keenam Pemerintahan lokal dibawah Khanate Gokturk, 555-639 M
Periode Ketujuh Pemerintahan lokal dibawah Khanate Gokturk , 650-660 M
Periode Kedelapan Pemerintahan lokal dibawah Khanate Turgis Turkish , 699-738 M.
Periode Kesembilan Kemerdekaan Penuh, 751-1216 M
Periode Sepuluh Pemerintahan Lokal Imperium  Mughal, 1217-1351 M
Periode Sebelas Kemerdekaan Penuh, 1351-1678 M
Periode Dua Belas Pemerintah lokal dibawah negara  Kalmuck, 1679-1752 M
Periode Tiga Belas Kemerdekaan Penuh, 1756-1759
Periode Pendudukan China
Periode Pertama 108-86 SM, terbatas wilayah selatan
Periode Kedua 60-10 SM., terbatas wilayah selatan
Periode Ketiga 74-103 M, terbatas wilayah selatan
Periode Keempat 640-649 M, semua wilayah
Periode Kelima 660-699 M, semua wilayah
Periode Keenam 738-751 M, Semua wilayah dan sebagian Turkistan Barat.
Periode Ketujuh 1753-1756, semua wilayah
Periode Kedelapan 1759-1861, Semua wilayah
Periode sembilan 1879-1931, Semua wilayah
Periode Sepuluh 1934-sekarang

Jadi dapat dilihat bahwa Turkistan Timur berada dibawah pendudukan China hanya selama 570 tahun dari total 2200 sejarahnya.

Dari semua fakta sosilogis, historis dan geografis jelas bahwa Turkistan Timur tidak menjadi bagian China, namun merupakan wilayah terpisah dari China yang ingin digabungkan. Dibawah penindasan, rakyat Turkistan Timur tidak pernah menerima kekuasaan China, dan sering mendapatkan kemerdekaannya, sekalipun dengan perlawanan senjata. Misalnya, ketika Turkistan Timur berada dibawah dinasti Manchu pada 1759-1862, Muslim Turkistan Timur mengangkat senjata melawan China lebih dari 40 kali.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *