Umat Islam India: Mereka Ingin Kami Menganggur (1)

Meerut, India – Di sore hari di pasar Gudri yang berumur hampir 100 tahun, seorang penjual daging bernama Gufran Farooq terpaksa menggantung pisau dagingnya. Tidak ada lagi darah hewan dan pisaunya selama beberapa hari tampak bersih. Demikian pula, lantai marmer, pemecah daging (kheema) dan pengait yang tetap tergantung. 

“Situasinya sangat serius,” tuturnya. “Segala sesuatunya dalam hidup saya weperti tidak bergerak.” Keadaan disini menjadi sepi dan anjing-anjing liar kini kelaparan. 

Lebih dari  6 minggu, tidak ada lagi daging sapi yang diperdagangkan di pasar Meerut ini. Diseluruh Uttar Pradesh, semua rumah penyembelihan hewan ditutup paksa oleh pemerintah baru yang dipimpin partai fundamentalis Hindu Bgaratiya Jannata (BJP).

Meerut yang terletak di dataran barat negara bagian ini, berada sekitar 70 km dari ibukota India di sepanjang sejarah terkoyak karena konflik agama. Para penduduknya terbagi sebagian wilayah Hindu dan Muslim. Identitas agama tampak dalam setiap pembicaraan politik di kalangan mereka.

Daging sapi tidak boleh diperjual-belikan di pasar Meerut sejak 6 minggu yang lalu. [Maya Prabhu/Al Jazeera]

Di kota bagian Hindu, penduduk lokal tampak tidak begitu terpengaruh dengan larangan tersebut, namun berbeda dengan wilayah Muslim. Para tukang jagal banyak dari kalangan Muslim, seperti Farooq. 

Salah seorang pendukung BJP bertutur bahwa mereka senang dengan penutupan rumah-rumah penyembelihan karena mereka adalah vegetarian. Dalam dalam kenyataannya, lebih dari 70 persen penduduk India makan daging. 

Pemerintah bersikeras bahwa rumah penyembelihan yang ilegal saja yang terdampak oleh kebijakan ini. Mereka mengatakan bahwa pelarangan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah terhadap tatanan hukum. 

Perbedaan -legal versus ilegal- adalah hal yang rumit bagi negara bagian yang ekonominya sebagian besar mengandalkan sektor informal. Lebih dari 83 persen bisnis di India tidak diatur, tanpa pajak dan tidak tercatat. 

Seperti banyak sektor besar lainnya, industri daging berada dalam wilayah informal. Hanya saja, sektor informal maupun semi formal lainnya tidak mengalami hal mendadak dan sanksi yang keras seperti sektor ini. 

 

Mereka Ingin Kaum Muslimin Menganggur

Berbicara dari kantornya di ibukota negara bagian Lucknow, Maulana Khalid Rasheed, imam masjid Aishbagh Eidgah yang terkenal mengatakan: “Ini bukan kesalahan rakyat yang bekerja di sektor ini, namun pemerintahan yang berkuasa yang gagal mengatur industri ini secara tepat.”

ramesh Dixit, analis politik dan mantan dosen politik di Universiras Lucknow mengatakan: “Para pedangan Muslim yang menjadi sasaran kebijakan ini”.

Ini adalah bisnis besar, ungkap Dixit, dan pemerintah menghendaki bisnis ini berada di tangan perusahaan-perusahaan besar. “Ide dari pemerintah yang berkuasa sekarang adalah menyingkirkan Muslim dari pekerjaannya. Ini adalah desain mereka. Itulah mengapa mereka ingin mengorbankan mereka dan meneror mereka atas nama penyembahan sapi.”

Di seluruh India, negara-negara bagian yang dikuasai BJP telah mempraktikkan larangan ini, berikut hukuman dan denda yang diterapkan. 

Farooq dan para tetangganya yang cemas mengatakan bahwa bisnis mereka sah. Penyembelihan sapi dilarang di Uttar Pradesh sejak 1955, namun mereka menyembelih kerbau. Sejak larangan itu, mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

Pilihan yang Memecah Belah

Sebelum para pendeta Hindu yang bernama Yogi Adityanath pindah ke kediaman menteri besar pada akhir Maret, tempat tersebut disucikan dengan susu sapi. Para pembantu rumah menyingkirkan semua hal yang berbau perabotan dari kulit. Sebuah kandang dibangun disana. Menteri besar itu meminta beberapa ekor sapi dari kuilnya dikirim ke kediaman barunya di Lucknow itu. 

Seperti halnya, para penganut Hindu fanatik, Adityanath dilahirkan dengan nama Ajay Mohan Bisht dari sebuah keluarga kasta istimewa di negara bagian Uttarakhand yang menganggap sapi sebagai binatang suci. Memberikan perlindungan kepada sapi menjadi misi utamanya sejak menjadi anggota parlemen pada 1998. Dia dua kali mengajukan RUU pelarangan penyembelihan sapi di republik India yang sekuler. 

Bahkan setelah memenangkan pemilu tahun ini, pengangkatan Adityanath menduduki jabatan tertinggi di negara bagian tersebut membuat banyak kalangan pengamat politik terkejut. BJP yang berkuasa sejak 2014 di Uttar Pradesh dengan slogan “kemajuan dan persatuan”, bersama dengan semua, maju untuk semua. Adityanath sejak lama dikenal sangat membenci Muslim, dan pidatonya mengundang perpecahan di negara bagian tadi. 

Adityanath mendapatkan reputasinya sebagai garis keras Hindu. Laporan polisi pada 1999 ditujukan kepadanya dengan 24 daftar kejahatan: percobaan pembunuhan, membawa senjata, kerusuhan, penodaan tempat ibadah, merusak kuburan Muslim dan mempromosikan permusuhan antara Hindu dan Islam. 

Pada 2007, Adityanath dipenjara selama 11 hari setelah dia dan pengikutnya yang fanatik, Hindu Yuva Vahini ditahan karena mencoba memprovokasi kerusuhan massa di Gorakhpur, yang menjadi basis kekuatannya. 

“Semua Masyarakat Khawatir”

Diantara Muslim di Uttar Pradesh, kampanye politik Adityanath telah menebarkan “Sejenis ketakutan”, menurut Imam Rasheed. “Seluruh masyarakat khawatir,” paparnya. “Kami khawatir karena rekam jejak tuan Yogi Adityanath dan bahasa yang digunakan kepada Muslim di masa lalu.”

Sekitar 20 persen dari 220 juta penduduk Uttar Pradesh adalah Muslim, menurut data pemerintah, negara bagian ini menjadi tempat yang paling banyak konflik agama. 

Chandra Mogan, juru bicara BJP mengatakan “Yogiji” akan menjadi menteri besar bagi semuanya. Namun Rasheed meragukannya. Pemerintah Adityanath tidak memasukkan satu Muslim-pun dalam kabinetnya. (Sebenarnya ada satu menteri muda dalam kabinetnya, menteri untuk urusan minoritas).

Imam mengatakan bahwa dirinya akan melihat dan menunggu terlebih dahulu. Meski demikian, dia memuji permintaan Adityanath yang meminta kejujuran dan ketegasan dalam pelayanan publik dan setuju dengan kebijakannya untuk melonggarkan pengembalian pinjaman kepada para petani yang terkena dampak kekeringan. 

Namun indikasi awal bagi minoritas Muslim tampak cukup mengganggu. “Cara dimana mereka memulai untuk menarget industri daging sungguh mengkhawatirkan. Ini memberi pesan negatif.”

Di belakang jam menara di Meerut, para penjagal dan penjual biryani di pasar Kotla duduk terpekur sambil menikmati teh dan bercakap-cakap. Polisi datang silih berganti untuk memastikan mereka tidak menjual daging. 

Jurnalis lokal mengonfirmasi bahwa di pertengahan April, dia melihat dua polisi berpakaian preman berkeliling dengan sepeda motor memperingatkan para pedagang. “Anda tidak diperbolehkan menjual daging, tahu?,” tanyanya. 

Sementara MK UPadhyay mempersoalkan hal ini. Menutup pasar adalah tugas dewan kota, bukan polisi. Penutupan rumah penyembelihan, tuturnya terbatas kepada keamanan, bukan penegakannya. 
Para pedagang berkeliaran dengan telpon selular mereka dan menunjukan video rumah penyembelihan di pinggiran Meerut yang ditutup oleh polisi.
Dalam video tersebut, seorang pria berdiri di tengah kerumunan mendesak polisi untuk menundanya. Katanya, hotel bintang lima juga menyediakan daging, termasuk orang Hindu sendiri. 
Para analis berargumen bahwa kebijakan baru tersebut merupakan desakan dari kelompok Hindutva yang mengkampanyekan perlindungan sapi, dimana Adityanath menjadi bagian dari kelompok garis keras tersebut. 
Namun juru bicara BJP membantah bahwa larangan ini bermotif ekonomi ketimbang ideologi sebagai upaya melindungi industri susu di Uttar Pradesh. “Industri susu turun drastis karena banyaknya rumah penyembelihan yang tidak resmi.”
Alasan ini jelas tidak masuk akal karena memisahkan simbiosis antara industri daging dan susu, selain juga menyesatkan. Data resmi menunjukkan bahwa jumlah kerbau dan sapi di negara bagian itu meningkat. Produksi susu di Uttar Pradesh meningkat 17 persen sejak 2012.
Sumber: Aljazera

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *