Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Mesir Larang Akses Al Jazeera

 Media Emirat Arab menyambut keputusan pemerintah yang memblok akses ke laman Al Jazeera dan koran-koran Qatar lainnya.

Seorang pejabat senior media menyambut keputusan tersebut dengan mengatakan Al Jazeera tidak memberitakan apapun kecuali berita palsu dan menjadikannya sebagai alat perang sebagaimana uang dan senjata.

Dia menuduh saluran berita ini telah menjadi alat untuk menyebarkan kekacauan di dunia Arab, seraya menambahkan keputusan pemerintah Emirat dan Saudi untuk memblok saluran ini patut disambut meskipun cukup terlambat setelah saluran ini menampakkan wajah sebenarnya dan menjadi juru bicara organisasi teroris.

Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab memblok semua laman yang dimiliki Qatar, termasuk Aljazeera menyusul ketegangan antara sesama negara Teluk sebagai akibat berita bohong yang dibocorkan ke internet Selasa.

Setelah laman Lembaga Berita Qatar diretas, sebuah pernyataan yang disebutkan berasal dari Amir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani  menyerukan Mesir, Uni Emirat Arab dan Bahrain untuk mempertimbangkan kembali sikap anti Doga mereka.

 Klarifikasi Qatar

Qatar sebelumnya mengatakan bahwa laman berita negara telah diretas setelah dilaporkan emir Qatar mengkritik beberapa aspek dalam kebijakan luar negeri AS dalam kunjungannya ke Arab Saudi.

Pernyataan yang disebutkan berasal dari Syeikh Tamim bin Hamad Al Thani selanjutnya disebarkan oleh beberapa media negara Teluk lainnya, sekalipun ada klarifikasi dari pihak Qatar bahwa berita tersebut palsu. Namun berita tersebut tidak pelak menimbulkan ketegangan baru antara Qatar dengan negara-negara Teluk lainnya.

“Media resmi negara telah diretas oleh pihak yang belum diketahui. Pernyataan palsu yang dikaitkan dengan Yang Mulia telah dipublikasikan,” ujar juru bicara pemerintah Qatar.

“Penyelidikan sedang dilakukan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Penyataan yang dipublikasikan tersebut tidak ada dasarnya dan otoritas yang berkompeten akan mencari siapa yang bertanggung jawab.”

Hubungan antara Qatar dan negara-negara Teluk mengalami ketegangan karena tuduhan dukungan negara itu terhadap Ikhwanul Muslim, kelompok Islamis terbesar di dunia Arab yang dituduh mengancam kedudukan dinasti Arab. Seruannya untuk demokrasi menjadikan banyak negara monarki dan para presiden seumur hidup di Arab merasa terancam kehilangan kekuasaan.

Qatar, Saudi dan Uni Emirat Arab telah menggunakan hasil minyak dan gas untuk mempengaruhi negara-negara Timur Tengah. Perebutan pengaruh di antara mereka telah mengubah peta politik di Libya, Mesir, Suriah, Irak dan Yaman.

Laporan tentang peretasan yang dikatakan memuat pernyataan Syeikh Tamim ketika berbicara dalam perayaan  di akademi militer telah meningkatkan ketegangan baru antara Qatar dengan negara-negara Teluk.

Juru bicara pemerintah membantah bahwa emir Qatar telah membuat pernyataan seperti itu.

Insiden tersebut terjadi 4 hari setelah Qatar mengeluhkan telah menjadi target serangan terencana oleh pihak-pihak yang tidk diketahui menjelang kedatangan Trump di Timur Tengah. Qatar dituduh melindungi kelompok teroris di Timur Tengah.

Setelah peretasan dan penyebaran berita palsu, Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa negara itu melarang rakyatnya mengakses berita dari laman Aljazeera.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *