Uni Eropa: Tidak Ada Masa Depan Assad di Suriah

Presiden Bashar al-Assad tidak memiliki masa depan di Suriah, namun nasibnya tergantung kepada rakyat Suriah sendiri, ungkap para menteri Uni Eropa Senin menanggapi pergeseran sikap AS.

Pekan lalu, Washington tidak lagi berfokus kepada penggulingan Assad namun lebih berkonsentrasi dalam perang melawan kelompok teroris seperti ISIS.

Ketika ditanya apakah artinya bagi kebijakan Uni Eropa, ketua blok menteri luar negeri Uni Eropa Frederica Mogherini mengatakan bahwa dia percaya “tidak mungkin akan kembali ke status quo di Suriah.”

Setelah 7 tahun perang,” tampaknya tidak realistik untuk percaya bahwa masa depan Suriah akan sama seperti masa lalu,” lanjut Mogherini ketika dia menerima rombongan para menteri Uni Eropa di Luxembourg.

“Namun ini menjadi keputusan rakyat Suriah, jelas, setiap solusi yang didukung semua rakyat Suriah, kita akan mendukungnya.”

Para menteri kemudian mengeluarkan pernyataan: “Uni Eropa mengingatkan bahwa tidak ada perdamaian yang efektif dibawah rejim sekarang ini.”

Dikatakan bahwa 13,5 juta rakyat Suriah kini membutuhkan bantuan kemanusiaan di Suriah, sementara 5 juta lainnya mengungsi di negara tetangga, seperti Turki dan beberapa negara lainnya.

Mogherini Kami bersama PBB selama 2 hari menyelenggarakan konferensi tentang masa depan Suriah di Brussel yang berfokus kepada penanganan situasi kemanusiaan di Suriah setelah perang merenggut lebih dari 320 ribu korban jiwa.

Mogherini menekankan bahwa konferensi ini menjadi bagian untuk mempersiapkan secara pas dalam rangka mengakhiri perang sementara pembicaraan damai di Jenewa terus berlangsung antara Damaskus dengan kelompok oposisi yang difasilitasi Turki dan Rusia.

Menteri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan dia percaya perubahan posisi AS tentu akan lebih realistis karena setiap upaya untuk tmendesak Assad  turun dari jabatannya mengalami kebuntuan.

“Namun satu hal yang tidak terjadi bahwa seorang diktator yang melakukan kejahatan yang mengerikan tidak tersentuh,” ujar Gabriel.

Pembicaraan damai PBB akan terus dilanjutkan dengan tujuan membuat konstitusi, pemilu dan pemerintah baru yang lebih demokratis.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Perancis Jean Marc Ayrault mengatakan harus ada transisi politik yang tulus menuju Suriah baru.

“Perancis tidak yakin adanya perubahan instan dalam Suriah baru yang dipimpin Assad,” tandasnya.

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *