Permusuhan Sejarah

Namun diskusi tentang Perang Salib masih relevan karena masih bercokolnya retorika anti Islam dari masyarakat dan pemerintah di Barat.

Ketika presiden terpilih AS, Donald Trump menyerukan larangan resmi atas masuknya semua Muslim ke negaranya, maka pelbagai kota dan pemerintahan di Barat melakukan hal serupa dengan pemberlakuan hukum yang represif dan membatasi terhadap Islam dan Muslim dan ketika seorang pendeta Kristen terkemuka di AS, Franklin Graham (yang membacakan doa peresmian atas pengambilan sumpah George W Bush) mendapatkan banyak pengikut karena menghina Islam dan Rasulullah, maka kaum Muslimin seperti melihat keterkaitan tersebut.

Maka rasional pula jika Muslim melihat keterkaitan antara bentuk modern Islamophobia dan permusuhan Kristen secara kesejarahan terhadap Islam dan Muslim. Bahkan ketika Paus Benedict XVI berbicara tentang Islam dalam bahasa pseudo akademik orientalis di masa lalu, maka apa yang dikatakannya sama persis dengan pandangan Kristen tentang Islam yang beredar pada abad Latin pertengahan.

Para Islamis, dan bahkan Muslim dan Arab melihat bahwa ada ideologi permusuhan Barat (baik dari kalangan agamawan dan sekuler) yang kuat masih tetap tersambung dari era Perang Perang Salib hingga abada 21.

Perang Salib bukanlah peristiwa yang telah berlalu dalam sejarah dunia. Perang Salib adalah upaya resmi yang bersumber kepada keyakinan terhadap Tuhan untuk menyingkirkan agama dan peradaban tertentu disebabkan karena fanatisme agama dan juga karena alasan ekonomi yang terbungkus dalam retorika agama.

Mereka ini adalah proyek pendudukan yang ingin menundukkan orang pribumi melalui komunitas para pemukim kolonial dan pelbagai kerajaan. Orang-orang Barat jarang mencatat kekejaman para tentara Salib tidak hanya kepada penduduk lokal Muslim, namun juga kepada orang Kristen dan Yahudi lokal.

Perang Salib  telah berlangsung beberapa abad lamanya dan diragukan pula apakah pemerintah dan masyarakat Barat menyadari dampak bencana dari tindakan mereka.

Pemerintah Barat menginginkan bangsa Arab dan Muslim melupakan dan memaafkan pelbagai kampanye militer mereka terhadap Arab dan Muslim, tidak peduli apakah mereka berasal dari abad 11 atau dari 2003. Telalu mudah saja bagi pemerintah dan para komentator Barat menghendaki bangsa Arab melupakan memori buruk mereka.

Dampak Berabad-Abad perang Salib

Perang Salib jelas merupakan peristiwa buruk dalam sejarah Islam dan kawasan Timur Tengah. Mereka menunjukkan kepada bangsa Arab dan Muslim bahwa keberadaan mereka di tanah dan negeri mereka sendiri menjadi subyek penolakan dan pengusiran paksa.

Para Islamis boleh jadi berlebihan tentang peran agama sebagai daya dorong perang Salib, sementara para sejarawan lebih menunjukkan kepada faktor politik dan ekonomi, namun apa yang benar dari mereka ini adalah bahwa hingga sekarang bahasa penaklukan Barat tidak banyak berubah.

Pemboman dan pendudukan wilayah Muslim dan Arab masih berkutat kepada retorika sesat Perang Salib dan kedaulatan bangsa Arab di tanah mereka bukan menjadi isu penting negara-negara Barat.

Ironisnya, Perang Salib dalam imajinasi Barat baik dalam kesusasteraan dan seni masih menjadi romantisme dan digambarkan secara heroik. Bahkan film Kingdom of Heaven Ridley Scott pada 2005 kehilangan banyak fakta serta menggambarkan bangsa Arab secara tidak akurat dan tidak sensitif.

Bahkan kadang orang-orang Barat lebih terobsesi dengan Perang Salib sendiri ketimbang orang-orang Arab. Namun orang-orang Arab terus memperhatikan kesamaan antara retorika politik Barat serta permusuhan dan kebencian vulgar mereka terhadap Muslim dengan pidato Paus tentang Perang Salib.

Tanggung Jawab Sejarah yang Ditolak 

Konflik antara Barat dengan dunia Arab dan Islam adalah konflik politik dalam akarnya, bukan karena masalah agama, meskipun terminologi agama dan jargon agama dipakai didalamnya.

Fakta yang mendasari sebab antipati Arab dan Muslim terhadap pemerintah Barat adalah sebab musabab politik dalam sifatnya. Hal ini menolak pandangan orientalis klasik tentang sentralitas agama dalam pikiran dan perilaku Arab.

Pandangan bahwa basis kemarahan Arab terhadap Barat sepenuhnya karena alasan agama adalah upaya seksama pemerintah Barat untuk menolak bertanggung jawab atas perang dan aksi mereka di kawasan ini.

Peristiwa sejarah berlangsung dan hilang tergantung hubungan mereka dengan realitas modern. Tidak ada orang Arab hari ini -misalnya- marah terhadap  bangsa Mongol. Pentingnya aspek politik dalam Perang Salib terkait dengan kemampuan rata-rata Muslim untuk melihat resonan dari era Perang Salib dalam retorika dan perilaku pemerintah Barat.

Yakinlah, pandangan kebencian terhadap Barat sekarang ini didorong oleh faktor agama merefleksikan cara pandang yang salah. Hanya saja, gerakan sekuler dan agama di Barat sering mengaitkan kecenderungan permusuhan yang sama terhadap Islam dan Muslim. Beberapa kalangan atheis Barat bahkan bergairah menyerang Islam dan Muslim seperti halnya kalangan Kristen Evangelis Amerika.

Puncaknya, pemahaman antara masyarakat dan agama tidak banyak berubah sekalipun dalam kata-kata atau bahkan permintaan maaf sejarah. Hal sulit dilakukan Barat terhadap Muslim.

Muslim dan Arab tidak marah terhadap Barat karena Perang Salib namun karena perang dan ketidakadilan yang dilakukan mereka terhadap Arab dan Muslim.

fakta bahwa ideologi permusuhan terhadap Islam dan Muslim terus berlanjut di masyarakat barat sehingga menjadikan jalangan Islamis dan lainnya menarik analogi agama antara masa lalu dan masa sekarang. Namun terserah kepada pemerintah Barat sendiri -tidak dengan menyerang kalangan Islamis, namun mendorong Perang Salib sebagi sisa sejarah masa lalu yang dilupakan.