Yerusalem: Era Pendudukan (2)

Jumat, 9 Agustus 1099, hari ke 29 Ramadhan. Tiba-tiba, Abu Saad al Harawi, seorang hakim kenamaan, masuk ke masjid di Baghdad dan makan terang-terangan di depan banyak orang. Dia baru saja bepergian selama 3 minggu ke Damaskus untuk membawa kabar tentang jatuhnya Yerusalem dan mengajak orang-orang bangkit merebutnya kembali. Dalam pandangannya, tidak ada cara yang menarik perhatian orang kecuali makan di siang hari di bulan Ramadhan. Orang-orang mulai menangis mendengar penuturan jatuhnya Kota Suci tersebut. Al Harawi menyampaikan permohonan kepada Khalifah, al Mustazhir. Sang khalifah berjanji membentuk komite khusus untuk pembebasan al Aqsha. Namun janji itu tidak pernah terlaksana.

Kaum Mnear_east_1135-217x300uslimin saat itu tidak dalam posisi siap menghadapi pasukan Salib yang kuat. Para amir Seljuk yang lemah lebih sering berperang satu sama lain, meninggalkan kota-kota dan desa-desa mereka hancur. Khalifah sendiri tidak punya kekuasaan yang nyata. Dia tidak lebih dari sekedar boneka di tangan para jenderal Seljuk. Persatuan dunia Islam yang tampak pada awal-awal Islam kini tidak lebih dari legenda.

Sementara, pasukan Salib dalam keadaan kuat dan bersatu. Mereka mendirikan 4 kerajaan Salib di sepanjang pantai Mediterania, yang dikendalikan para pangeran Perancis atau Jerman. Meskipun Muslim secara etnis telah dibersihkan dari kota-kota utama seperti Yerusalem, Antioch dan Beirut, namun kebanyakan para petani Arab masih tinggal di wilayah pendesaan. Di kerajaan Yerusalem sendiri masih ada 300 ribu warga arab.

Aspek unik dari pendudukan ini adalah adanya asimilasi perlahan pasukan Salib ke dalam budaya Arab. Sebelum kedatangan pasukan Salib. Kaum Muslim berada di garda depan inovasi teknologi, filsafat dan budaya. Sementara bangsa Eropa tengah berada dalam abad kegelapan. Keunggulan kaum Muslimin tidak banyak diketahui mereka. Seperti ditulis Ibnu Munqidh; โ€Mereka semua yang paham tentang bangsa Frank melihat seperti orang-orang buas karena keberaniannya dan semangat bertempurnya, namun diluar itu, mereka lebih mirip binatang dalam kekuatan dan agresinya.โ€

Lambat laun, praktik kehidupan kaum Muslimin mulai mempengaruhi budaya pasukan pendudukan. Pasukan Salib mulai meniru perilaku praktik kaum Muslimin, di bidang kedokteran, bahasa, pertanian, teknik, dan matematika. Bahkan, permainan catur, yang pada awalnya dikembangkan di Persia diperkenalkan kepada mereka karena perang Salib.

Namun invasi pasukan Salib atas dunia Islam tidak menciptakan masyarakat multi agama. Penduduk sipil Muslim selalu diliputi ketakutan karena kebrutalan pasukan pendudukan Eropa ini. Mengutip sumber Eropa, pada November 1098, pasukan Salib membantai penduduk sipil di Kota Maโ€™arra dan kemudian memakan jasad mereka. Kisah tentang kebrutalan bangsa Frank menimbulkan kengerian kaum Muslimin. Di awal 1100, kemenangan kaum Muslimin masih tampak jauh hingga era kepemimpinan Imaduddin Zengi pada 1130 muncul. Pada saat itu, itu arah angin perlahanย berbalik.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *