Yerusalem Hanya Hilang di mata Pengkhianat

*Amira Abu Futuh

Mursyid Aam Ikhwanul Muslimin di Mesir, Dr Mohamed Badie di pengadilan mengatakan: “Palestina adalah perjuangan utama kita. Lepaskan kami dan kami akan membebaskan Yerusalem dan Palestina.” Hakim menjawab: “Yerusalem telah lepas dan anda adalah teroris.” Pernyataannya merepresentasikan pandangan rejim Mesir saat ini. Pembicaraan ini hanya menjelaskan bahwa pemerintah Mesir tidak peduli dengan Yerusalem, Palestina atau nilai sejarah kota tersebut. Ini bukan hal yang mengejutkan jika tanah dan kesucian Palestina tidak berarti apa-apa bagi pemerintah. Rejim Mesir telah melakukan sebelumnya, memberikan tanah Mesir, pulau Sanafir dan Tiran ke Arab Saudi. Lantas apa yang kita harapkan dari rejim ini untuk memahami pernyataan Dr Badie. 

Israel tentu paham pandangan publik Arab dan takut terhadap mereka, namun mereka dijamin oleh pemerintah-pemerintah Arab yang akan menjaga perbatasan Israel. Kenyataannya sekarang, Mesir, tanah al Azhar  menahan para wartawan yang berdemo didepan kantor mereka sendiri karena  meneriakkan dukungan kepada rakyat Palestina dan Yerusalem. Mesir juga melarang semua aksi protes di halaman, sehingga para demonstran hanya melakukan aksi di dalam gerbang Al Azhar dan kampus. Gerbang besi membatasi para demonstran yang marah dengan jalanan. Rejim Mesir berpikir bahwa gerbang besi itu dapat membatasi dan mengendalikan kemarahan mereka. 

Trump telah meminta para penguasa Arab mengendalikan kemarahan massa setelah keputusannya untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Beberapa mendengarkan dan mematuhinya, sementara yang lainnya mengabaikan dan menolaknya, seperti Maroko, Aljazair, Tunisia dan Mauritania. Rakyat mereka melakukan demonstrasi besar-besaran dan memenuhi jalanan. Diluar itu, negara-negara Muslim lainnya turut serta seperti Turki, Indonesia, Malaysia dan Pakistan dimana rakyat dari negara-negara Muslim itu turun ke jalan seperti gelombang yang menerjang. 

Pertanyaannya yang masih tersisa: Dapatkan protes saja membebaskan Yerusalem? Benar bahwa pelbagai protes ini mengekspresikan kemarahan dan penolakan mereka atas keputusan AS yang ceroboh, dan itu penting serta dibutuhkan. Namun protes itu tidak berlangsung setiap hari, hal yang akan mengkhawatirkan Israel. Alih-alih, pelbagai aksi itu akan cepat hilang dan hanya tersisa perlawanan di wilayah pendudukan. 

Ini adalah apa yang diinginkan penjajah, pergolakan sementara yang berbunyi nyaring dan kemudian hilang. Pada saat bersamaan, Israel tetap menyudutkan, membunuh dan menahan rakyat Palestina sesukanya. Pelbagai langkah ini akan mempreteli karakter Muslim dan Arab kota Yerusalem. Hal yang hanya terbatas sebagai keprihatinan rakyat Palestina saja. 

Kita sekarang sedang menyaksikan pergolakan di ibukota Palestina dan heroisme dari rakyat Palestina yang pemberani. Mungkin yang paling penting diantaranya, tindakan gagah berani, As Syahid Ibrahim Abu Thuraya yang tewas ditembak kepalanya oleh tentara Israel saat mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan dukungannya atas Yerusalem. Dia adalah seorang difabel yang berada di atas kursi roda karena kedua kakinya diamputasi sebagai akibat pemboman Israel. Namun dia tidak berhenti berjuang melawan musuh, meskipun dia kini hanya mempunyai lidah untuk melawannya. Keberaniannya menjadikan kita tampak lemah, sementara dia kelihatan tegar. 

Namun pergolakan tersebut mengalami nasib yang sama karena dibalik itu tidak ada kepemimpinan atau partai yang bersatu yang membimbing dan mengorganisir aktivitas dalam membela Yerusalem. Ini tentu mengingatkan kita kepada intifadha pertama, yang pecah pada 7 Desember 1987. Namun situasi dan masyarakatnya kini berbeda dan intifadha pada waktu memberikan pukulan telak kepada Israel karena adanya pemimpin yang bernama Yasser Arafat, baik disukai atau tidak. 

Orang turun ke jalan dibelakang dia dan dia dapat menggerakkan rakyat, tidak hanya publik Palestina, namun juga publik Arab. Namun, pemimpin yang merupakan hasil  kesepakatan Oslo hanya mendapatkan kesepakatan damai palsu, yang hanya memberikan kesempatan Israel untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Mereka mengakui Israel, meninggalkan konsep perlawanan dan menjadikan opsi damai sebagai pilihan strategis mereka. Namun pada kenyataannya, tidak ada yang dapat dicapai selama 25 tahun kecuali semakin banyaknya tanah Palestina yang hilang, Yahudisasi Palestina dan pembangunan lebih banyak permukiman ilegal Israel.

Mereka yang diberikan posisi palsu dalam otoritas yang palsu pula sejatinya tidak tengah memerintah, namun mereka bangga dengan kursi yang didudukinya. Pemimpin Palestina sekarang hanya berani berpidato berapi-api di KTT Muslim saja, namun tidak berani membatalkan kesepakatan Oslo yang menjadi sumber dari segala bencana yang membuat rakyat Palestina menderita. Pada satu sisi, otoritas palsu ini menikmati cahaya, konvoi mobil, karpet mereka dan sambutan selama kunjungan luar negeri, namun di sisi lain, hantu kematian Yasser Arafat menghantui mereka. 

Setelah menyadari jebakan dan masuk kedalamnya, Arafat tampaknya ingin memperbaiki keadaan tersebut, namun dia dikurung selama 2 tahun dan kemudian dihabisi. Abbas takut mengalami nasib yang sama seperti Arafat. Namun, sejak tinggal di Tunisia sekalipun, dia tidak hendak melakukan perlawanan untuk membebaskan Palestina. 

Kini kita harus memberikan Al Sisi, putera Mahkota Saudi yang mencoba menggagalkan KTT di Istanbul dengan hanya mengirimkan utusan tidak penting. Dia juga menekan Raja Yordania Abdullah II untuk tidak hadir. Namun, mereka lupa bahwa Yerusalem adalah masalah eksistensial, oleh karena itu, persengkongkolan mereka gagal. 

Meskipun ada harapan dalam KTT Istanbul dan keinginan tulus Presiden Recep Tayyip Erdogan yang merefleksikan kesadaran dirinya sebagai bagian ummah, KTT itu sendiri tidak menghasilkan keputusan yang tegas yang dapat memuaskan kaum Muslimin ditengah situasi semacam ini. Dalam pernyataan penutupnya, tidak disinggung lagi kemungkinan pemutusan hubungan dengan Israel atau mengundang duta besarnya untuk pembicaraan.

Publik lebih jauh marah atas fakta bahwa KTT menekankan pembagian Yerusalem dengan Yerusalem Timur, dan menjadikan ibukota Palestina, sementara Yerusalem Barat milik Israel. Masyarakat Muslim menganggap Yerusalem sebagai kota bersatu yang tidak dapat dibagi. Pendeknya, KTT tidak mempunyai kartu kuat untuk menekan atau bahkan memaksa AS untuk mundur dari keputusannya, dan oleh karena keputusannya dapat dianggap lemah dan disesalkan. 

Sementara itu, rakyat Palestina tidak memiliki kepemimpinan sejati yang berani menggunakan momentum keputusan Trump sebagai upaya untuk membatalkan kesepakatan Oslo dan melepaskan diri dari kewajiban yang tidak adil dan memalukan. Para pemimpin Hamas tidak perlu buang-buang waktu gunakan kesempatan untuk membebaskan diri dari beban rekonsiliasi yang cacat. Hamas tidak boleh menyerah atas tekanan para pemain regional. Di hadapan mata umat Islam, Hamas menjadi satu-satunya perlawanan yang tersisa. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *