Melihat Strategi Perang Taliban dan NATO di Afghanistan

Exit Strategy Obama di Afghanistan tidak berjalan lancar. Pengiriman 50 ribu pasukan tambahan ke Afghanistan tidak memperbaiki posisi pasukan NATO pimpinan AS maupun Rezim Hamid Karzai. Alih-alih, gempuran demi gempuran gerilyawan Taliban semakin merepotkan dan merenggut banyak korban di pihak pasukan pendudukan. Taliban secara de facto menguasaai 80 persen wilayah Afghanistan dengan hanya menyisakan beberapa kota besar seperti Kabul dan Kandahar dibawah kendali NATO dan rejim Karzai. Penyerangan atas instalasi kantor kepresidenan beberapa saat lalu secara simbolik memberikan pesan eksistensi ‘kekuatan perlawanan’ yang kuat.
Perlawanan Taliban sejatinya merefleksikan karakter dan tipologi sesungguhnya masyarakat Afganistan yang independen dan tidak mudah menyerah. Sejarah membuktikan bahwa para pejuang Afganistan sulit dikalahkan baik oleh Inggris di abad 19, Uni Soviet di era 80-an hingga oleh pasukan NATO sekalipun. Negeri penuh konflik ini sangat komplek dan sulit untuk ditundukkan oleh kekuatan militer yang canggih. Pelbagai peralatan canggih AS dan NATO baik dari satelit mata-mata, alat sadap komunikasi, hingga kendali udara yang dikerahkan gagal menundukkan para gerilyawan. Alih-alih, Taliban kini semakin mengembangkan sayap perlawanannya semakin kedalam mendekati Kabul dan beberapa kota penting lainnya di Afghanistan seperti Kandahar. Basis perlawananan gerakan ini tidak hanya di sepanjang perbatasan Pakistan.
Bagi Taliban, metode gerilya dengan taktik pukul dan lari (hit and run) benar-benar merepotkan pasukan NATO. Bagi Andre Beaufre, Perang gerilya laiknya perang kutu (war of flea). Sekumpulan kutu mengisap darah anjing inangnya. anjingnyapun akhirnya mati amnesia karena baik taring maupun cakar yang dimilikinya tidak dapat menjangkau kutu yang tinggal di tubuhnya. Dalam perang model ini, front berada dimana-mana sehingga aksi militer lawan yang tangguh menjadi tidak efektif lagi. Dalam perang kemerdekaan Al Jazair, 150 ribu pasukan pendudukan Perancis ditekuk 30 ribu gerilyawan yang tidak punya ‘kantor’ namun memiliki banyak konter (front). Dalam perang Afghanistan, titik terlemah bagi NATO adalah jalur komunikasi dan suplai logistik yang sepenuhnya mengandalkan jalur darat. Jalur yang secara riil tidak dapat dipertahankan secara militer, terlebih untuk karakteristik wilayah Afghanistan yang berbukit dan terjal. Dalam kondisi ini, militer mengalami overstreching kemampuan untuk secara efektif mengontrol wilayah dan jalur komunikasi dari sabotase dan serangan hit and run.
Disisi lain, janji rehabilitasi dan bantuan atas Afghanistan pasca perang tidak terwujud, baik karena kemampuan sabotase Taliban maupun karena ketidakseriusan para negara donor mengucurkan dananya. Rakyat Afghanistan masih tetap miskin dan menderita. Akibatnya, AS dan NATO gagal meraih simpati dan dukungan rakyat Afghanistan yang menjadi prasyarat mutlak menundukkan Taliban. Alih-alih, serangan membabi buta NATO hanya semakin mempertegas kebencian rakyat Afghan atas keberadaan tentara asing.
Memang NATO secara militer tidak dapat dikalahkan, namun dalam jangka panjang, kegigihan Taliban akan sangat merugikan AS dan NATO. Citra domestik AS dan negara-negara NATO akan rusak dimata para pemilih dan pembayar pajak karena mempertahankan keberadaan pasukan mereka untuk kepentingan pemerintah asing. Dalam doktrin perang Gerilya, sejatinya kemenangan kalangan pemberontak tidak ditentukan oleh keunggulan militernya namun justru berada didalam dinamika politik domestik negara-negara tersebut, terlebih menjelang pemilu. dalam perspektif kepentingan nasional, warga Perancis, Inggris dan AS tidak melihat relevansi mempertahankan eksistensi pemerintahan rapuh Karzai. Dan perang Afghanistan kembali menunjukkan kemenangan strategi Daud atas Jalut atau efektifitas perang asimetris dalam perang modern. Dan AS kembali mengulang kesalahan serupa di Perang Vietnam dalam medan perang para Mujahidin.
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *