Perang Anglo-Afghan Pertama: Jatuhnya Imperium Inggris di Afghanistan

Tidak banyak negeri Muslim yang menderita perang sebanyak Afghanistan. Intervensi dan invasi asing telah menjadi ancaman terus menerus negeri ini sejak awal 1800-an. Uni Soviet pada 1980-an dan AS di 2000-an menghadapi perang brutal di Afghanistan.  Negara pertama yang mengalami kekalahan dalam perang di Afghanistan adalah Inggris. Pada 1800-an, ketika Inggris mencoba mengkonsolidasikan kekuasaannya di India, negara itu melirik  wilayah Barat Laut, yakni Afghanistan menjadi wilayah penyangga untuk menghadapi imperium Tzar di Rusia. Hasilnya adalah Perang Anglo-Afghan yang berlangsung dari 1839 hingga 1842.

Latar Belakang

US_Army_ethnolinguistic_map_of_Afghanistan_-_circa_2001-09-300x274Ditengah perbedaan dan konflik etnik , negara pertama Afghanistan mulai berdiri pada akhir 1700-an dibawah kepemimpinan Ahmad Shah Durrani (1747-1772), yang mendirikan kerajaan yang ber-ibukota di kandahar. Negara itu terletak diantara Dinasti Mughal dan Safawi Persia. Durrani mengandalkan dukungan suku Pashtun dan beberapa suku lain dalam pemerintahannya, sehingga relatif mencegah terjadinya perang antar etnik. Di sepanjang sejarah, Afghanistan dan wilayah di sekitar banyak terkoyak perang karena perbedaan etnik. Pashtun mendominasi wilayah Timur dan Selatan Afghanistan, sementara Hazara, Turkmen, Uzbek, dan Tajik ada di sebelah utara. Masing-masing etnik memiliki identitas, bahasa dan loyalitas sendiri. Dengan demikian, perstuan nasional diantara beragam etnik itu sulit diwujudkan. Seiring ditemukannya senjata api di abad 16, Afghanistan menjadi ajang rebutan pengaruh antara Dinasti Safawi di Barat dengan Dinasti Mughal di Timur.

Namun, seiring bangkitnya imperium Inggris dan Rusia pada 1800-an, maka negara yang didirikan Ahmad Shah kini menghadapi ancaman dari kedua negara tersebut. Perusahaan dagang Inggris di India Timur mencoba menggunakan pelbagai taktik, mulai dari penyuapan hingga ancaman perang untuk menundukkan India pada akhir abad 18 hingga 19. Sementara Rusia mulai mencaplok banyak wilayah dinasti Khanate Turki yang ada di Asia Tengah, yang berbatasan dengan utara Afghanistan.

Bagi Inggris, pergerakan invasi Rusia menjadi ancaman. Mereka khawatir  jika Rusia terus melanjutkan invasinya ke selatan, maka mereka dapat menggunakan Afghanistan sebagai basis untuk menyerang Inggris di India. Dengan gunung Himalaya sebagai benteng alami di sebelah utara, maka satu-satunya jalan untuk menghadapi invasi darat  adalah lewat pegunungan Hindu Kush yang dikontrol Afghanistan. Faktanya, sepanjang sejarah, Hindu Khus sering digunakan sebagai pintu masuk menyerang India.

Maka Inggris berniat menjadikan Afghanistan sebagai daerah penyangga untuk menghadang ancaman invasi Rusia pada 1830-an. Amir di Afghanistan pada waktu itu adalah Dost Mohammad Khan, yang berkuasa di Kabul. Kabul terletak di bagian timur Afghanistan, yang merupakan  jalur terdekat menuju India. Jika Dost Mohammad dapat mencegah Rusia menginvasi Afghanistan, maka Inggris akan merasa aman di India.  Hubungan damai tetap terjaga dan tidak ada perang.

Namun Dost Mohammad dipandang Inggris tidak cakap karena  pada akhir 1830-an, Rusia yang bersekutu dengan Persia menyerang Afghanistan dengan dalih mengambil wilayah kota Herat untuk Persia. Maka, keinginan Inggris mencegah Rusia melalui jalur diplomatik gagal, dan pada akhirnya memutuskan menginvasi Afghanistan sebelum kedahuluan Rusia. Dost Muhammad digulingkan dan digantikan amir baru, Shah Sujah Durrani yang pro Inggris.

Invasi

Pada akhir 1838, Inggris memobilisasi lebih dari 20 ribu tentaranya untuk menginvasi Afghanistan, mayoritasnya para Sepoy, pekerja yang direkrut dari penduduk asli India. Tentara Inggris bersenjata modern, disiplin dan terlatih. Sebaliknya, pasukan Afghanistan minim persenjataan dan tidak terbiasa dengan model perang Eropa. Jika pasukan Inggris menggunakan taktik barisan infantri yang rapat dan bersenjata senapan api, sebaliknya pasukan Afghanistan tidak teratur dan bukan tentara profesional. Meskipun Dost Mohammad memiliki tidak kurang 40 ribu pasukan kaveleri dan puluhan ribu pasukan cadangan Ghilzai  yang sewaktu-waktu dikerahkan dari penduduk di sekitar Kabul, namun mereka bukan pasukan profesional yang memiliki loyalitas dan  kedisiplinan tinggi.

Alih-alih perselisihan dan konflik sering terjadi di antara suku dalam pasukan Afghanistan sehingga sulit bekerja sebagai satu unit. Meskipun demikian Ghilzai adalah pasukan sangat yang efektif karena keberanian dan kemampuan mereka menyerang secara tiba-tiba. Setelah menyerang, mereka kembali ke kampung halaman berbaur dengan penduduk lainnya. Kemampuan ini pula yang terbukti menentukan kekalahan Inggris.

Britattack-300x188Ketika Inggris menginvasi pada awal 1839, mereka masuk melalui  Bolan Pass di selatan Afghanistan, di luar jalur Khyber Pass yang biasa dilalui. Akibatnya, Kandahar jatuh cepat pada April 1839. Dost Mohammad berharap bahwa pasukannya di Ghazni, benteng menuju ke Kabul dapat menahan serangan Inggris sehingga memberi waktu dirinya untuk memobilisasi pasukan cadangan Ghilzai.

Namun kenyataannya, Ghazni bukan tandingan bagi Inggris. Artileri modern dengan pasukan yang profesional dengan cepat pula menjebol benteng. Antara 500-1200 pasukan Afghan tewas, sementara Inggris hanya kehilangan 17 orang selama pengepungan. Dost Mohammed tahu bahwa sebentar lagi Inggris sampai ke Kabul sehingga dia berniat menghadang mereka dengan seluruh pasukannya di luar kota Kabul. Namun, berita tentang kehebatan pasukan Inggris menjadikan Dost Mohammad mengalami kesulitan memobilisasi pasukan. Hanya 3000 orang saja yang bersedia bertempur. Sementara mayoritas tentara lainnya telah bubar dan kembali ke kampung halamannya.

Dost Mohammad terpaksa melarikan diri ke Asia Tengah dengan harapan dia dapat merekrut kembali pasukan dalam pengasingannya. Inggris akhirnya masuk ke Kabul pada Agustus 1839 dan menobatkan Shah Shujah Durrrani sebagai emir baru Afghanistan. Shah Shujah bukanlah figur populer di ibukota dan dilihat oleh masyarakat tidak lebih dari agen penjajah. Pemerintahannya lemah dan tidak mampu mengendalikan Afghanistan, namun Inggris setidaknya berhasil mengamankan India dari kemungkinan invasi Rusia. Misi utamanya sendiri telah selesai.

Pemberontakan Rakyat

Pengusiran tentara Inggris dari Afghanistan justru tidak berasal dari upaya Dost Mohammad. Dia sendiri pada 1840 menyerahkan diri dan dibuang ke Calcutta, India. Kemenangan Afghanistan justru terjadi karena perlawanan rakyat yang tidak sudi hidup dalam penjajahan Inggris.

Penjajahan Inggris yang berpusat di Kabul telah membawa perubahan besar kepada rakyat biasa. Dengan melihat pengalamannya di India, Inggris  hendak mereformasi pemerintahan dan militer Afghanistan agar sesuai standar Barat. Akibatnya, gaji kepada kepala suku karena loyalitasnya dipotong hingga 50 persen. Ini tidak pelak melemahkan loyalitas mereka kepada pemerintah Shah Shujah, sementara daerah-daerah pedesaan mengalami kesulitan bahan pangan. Inflasi yang disebabkan penjajahan Inggris menjadikan kota-kota di Afghanistan, khususnya Kabul dan Kandahar juga mengalami kesulitan. Inggris membawa mata uangnya sendiri, sehingga menjadikan mata uang lokal menjadi tidak berharga. Pendapatan jatuh dan harga-harga melonjak. Para ulama, yang sebelumnya mendapatkan honor pemerintah kini  tidak mereka terima lagi. Sebaliknya, pemerintah Shah Shujah merampas lembaga-lembaga bantuan sosial yang ada dan menetapkan pajak tinggi yang dianggap bertentangan dengan hukum Islam.

Ketidakpuasan dan frustasi ini berujung demonstasi besar-besaran anti Inggris pecah pada November 1841. Para demonstran yang marah, yang dipimpin para kepala suku dan ulama, menyebar ke seluruh kota menentang pengaruh Inggris di ibukota. Akibatnya, seorang pejabat Inggris terbunuh. Ketika Inggris tidak bertindak, aksi perlawanan semakin membesar. Sekitar 15 ribu Ghalzai, tentara dari pelbagai suku berkumpul di Kabul sehingga berhasil mengusir pasukan Inggris.

800px-Remnants_of_an_army2-300x168Terlebih pasukan Inggris tersebar di seluruh kota-kota Afghanistan, maka mudah untuk dikepung dan dikalahkan oleh pasukan Ghilzai. Bahkan di Kabul yang menjadi pusat konsentrasi pasukan, mereka tidak dapat berbuat banyak ketika pasukan Afghanistan mulai merebut depot suplai makanan mereka. Jendral Inggris di Kabul William Elphinstone akhirnya menyerah karena kalah jumlah. Anak Dost Mohammad, Mohammad Akbar masuk ke kota Kabul dan juga menggerakkan perlawanan.  Elphinstone akhirnya menandatangani perjanjian penyerahan dan pasukannya bersedia mundur ke Jalalabad, 150 Km di sebelah timur Kabul.

4500 Pasukan Elphinstone dengan 12 ribu Sepoy meninggalkan Kabul pada Januari 1842. Melihat karakter independensi suku-suku di Afghanistan, rupanya perjanjian yang dibuat pemerintah pusat tidak berlaku kepada Ghilzai, para tentara suku-suku yang ada. Disepanjang perjalanan ke Jalalabad, para pasukan Ghilzai sering menyerang pasukan Inggris kemudian menghilang di balik bukit-bukit. Disamping itu, musim dingin yang keras menambah penderitaan pasukan Inggris di sepanjang perjalanan. Banyak dari mereka yang meninggal karena dua faktor tersebut. Empat hari perjalanan, hanya tersisa 150 tentara dan 4000 sepoy. Dua hari berikutnya, hanya tersisa 20 tentara. Hingga masuk Kota Jalalabad hanya tinggal seorang, Dr. William Brydon, asisten bedah. Dari 20 ribu pasukan yang berangkat menginvasi Afghanistan, kini hanya tinggal seorang yang masih hidup selama mundur dari ibukota Kabul. Secepat Inggris menduduki Kabul, secepat itu pula mereka terusir dari Afghanistan dan habis pasukannya.

Dampak Kekalahan

Habisnya pasukan Elphinstone menjadi kemenagan besar rakyat Afghanistan. Ditengah konflik dan permusuhan etnik, mereka masih bersatu sehingga dapat mengalahkan pasukan superpower Inggris pada waktu itu. Pemerintahan boneka di Kabul segera jatuh dan Shah Shujah dibunuh pada April 1842. Dost Mohammad dibebaskan dari penjara oleh Inggris dan kembali ke Afghanistan untuk menduduki kembali jabatan Amir setahun kemudian.

Kekalahan Inggris membantu memperkuat ikatan nasional di Afghanistan, meskipun afiliasi suku masih tetap terkuat. Di seluruh negeri, perasaan xenophobia sebagai respon terhadap penjajahan Inggris terus berkembang hingga kini. Perasaan yang sama tetap berlangsung ketika Afghanistan diinvasi oleh Inggris pada 1870 dan 1910 dan juga oleh Soviet dan Amerika 100 tahun kemudian. Dalam perspektif Inggris, kekalahan mereka dianggap sebagai tertutupnya segala kemungkinan pertemanan antara dua negara. Bangsa Afghan digambarkan oleh mereka bangsa yang barbar, biadab dan pengkhianat serta menjadi mindset mereka ketika berinteraksi dengan bangsa Afghanistan. Namun demikian kekalahan tersebut juga mempengaruhi posisi Inggris di India. Wibawa Inggris anjlok di mata rakyat India sehingga berujung pemberontak Sepoy pada 1857 di India.

Perang Anglo-Afghan meningkatkan reputasi negeri itu sebagai “kuburan bagi negara-negara besar. Mitos  bangsa Afghanistan tidak dapat ditundukkan masih bercokol hingga sekarang. Boleh jadi karakteristik itu tidak sepenuhnya benar, namun tidak dapat dibantah jika semangat perlawanan yang tidak tergoyahkan hingga kini masih menjadi kesadaran nasional mereka, seperti yang disaksikan oleh orang luar.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *