Perang Salib: Pendudukan Baitul Maqdis (1)

Latar Belakang
800px-anatolia_1097-svg-300x156Dunia Islam sekitar 1000 M berada dalam instabilitas politik. Kekhalifahan Abbasiyah yang bangkit pada pertengahan 700 M hanya tinggal bayang-bayang. Abbaasiyah dikendalikan oleh para khalifah lemah, namun kekuasaan sesungguhnya ada pada para panglima Seljuk. Seljuk menguasai Anatolia dimana mereka mendirikan kesultanan Seljuk yang meliputi Suriah, Irak dan Persia. Mereka bukan kekuatan yang bersatu. Masing-masing wilayah dan kota memiliki gubernur sendiri yang berperang satu sama lain.
Di Afrika utara, Dinasti Syiah Fatimiyyah berkuasa. Fatimiyyah terus berupaya melebarkan sayap kekuasaannya ke wilayah Sunni Seljuk, yang batas wilayah antara keduanya adalah kota suci Yerusalem (Baitul Maqdis).

Meskipun secara politik terpecah, bangsa Turki berhasil melebarkan sayap kekuasaannya hingga wilayah Bizantium. Dalam Perang Manzikert pada 1071,, pasukan Turki mengalahkan Byzantium, sehingga menguasai seluruh wilayah Anatolia. Wilayah Seljuk sendiri mencapai tembok kota Konstantinopel. Pada 1095, kaisar Alexios berkirim surat kepada Paus Urban II di Roma untuk meminta bantuan menghadapi laju pasukan Turki. Dalam kenyataannya, surat itu berimplikasi penting dari sekedar penambahan pasukan.

Paus Urban menggunakan surat itu untuk menggalang Eropa menundukkan wilayah-wilayah Muslim. Dia menginginkan berdirinya kerajaan Eropa di tanah suci dan menghancurkan Muslim sebagai kekuatan politik dan militer. Di Dewan Clermont, Paus Urban membentuk pasukan Katolik dan mengirimkannya ke Tanah Suci. Tidak kurang 30 ribu pasukan, pria dan wanita, termasuk anak-anak direkrut dan berangkat ke Yerusalem.

Pasukan Muslim pertama yang menghadapi pasukan Salib adalah tentara Turki di Anatolia. Amir Seljuk, Kilij Arslan pada awalnya dapat mengalahkan pasukan Salib saat menyeberang Anatolia. Namun jumlah pasukan Salib yang besar menjadikan mereka kerepotan. Pasukan Salib menyerang dan merampas harta penduduk Anatolia untuk perbekalan di daerah pinggiran, walaupun mayoritasnya memeluk Nasrani.

siegeofantiochPada 1097, pasukan Salib mencapai benteng kota Antioch, yang berbatasan dengan Suriah, Kota itu sulit dipertahankan oleh Amir Seljuk, Yaghi Siyan hanya dengan kekuatan 6000 tentara yang menghadapi 30 ribu tentara Salib. Namun kota itu sulit ditundukkan. Kota ini dilindungi benteng yang kuat, sungai, gunung dan lembah. Pada dasarnya, tidak ada yang dapat menundukkannya kecuali, perpecahan dan pengkhianatan.

Yaghi-Siyan berkirim surat kepada para amir sekitarnya meminta bantuan. Namun sayangnya, sikap para amir lainnya hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka tidak ingin membantu amir musuhnya kecuali jika mereka sendiri terancam. Akibatnya, para amir di sekitar Suriah mengabaikan permintaan Siyan. Beberapa amir lainnya bahkan berpikiran jika Antioch jatuh maka mereka kehilangan satu rivalnya.

Antioch masih mampu bertahan, kecuali satu orang yang tinggal di dalamnya.ย Firuz adalah pembuat senjata yang bertanggung jawab menjaga menara Antioch selama pengepungan. Dia terbukti bersalah mengendalikan pasar gelap sehingga didenda sang Amir dalam jumlah besar. Dia kemudian berencana mendapatkan kekayaannya kembali dan dalam benaknya, cara terbaiknya adalah adalah dengan membiarkan pasukan Salib masuk ke kota. Pada malam hari. Juni 1908, setelah 200 hari pengepungan, Firuz membiarkan tentara Salib memanjat tembok dan membuka gerbang. Keesokan harinya, kota Antioch berhasil ditundukkan karena sakit hati seorang pembuat senjata.

crusade_1-274x300Setelah menundukkan kota yang berbenteng kuat, pasukan Salib melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Pengkhianatan demi pengkhianatan terus berlanjut di kota-kota yang dilalui pasukan Salib. Para Amir rela mengkhianati wilayah-wilayah tetangganya untuk keamanan dirinya. Hampir semua kota di sepanjang pantai memberi akses kepada pasukan Salib untuk menghindari nasib yang sama seperti halnya Antioch.

7 juni 1099, pasukan Salib mencapai kota Yerusalem. Kota ini tidak dapat mempertahankan dirinya sendiri. Setahun yang lalu, Dinasti Fatimiyyah merebut Yerusalem dari orang-orang Turki dan memperluas kendali kekuasaan Syiah hingga Suriah. Dinding kota rusak. Hanya ada ratusan prajurit yang mempertahankan kota dan tidak ada bantuan yang datang.

Setelah sebulan pengepungan, dinding kota berhasil dijebol, kota tempat Miโ€™raj Nabi SAW dikuasai pasukan Salib. Pembantaianpun terjadi, lebih dari 70 ribu Muslim dan Yahudi dibunuh di jalanan kota. Penduduk Muslim yang berlindung di dalam masjid Al Aqsha tetap juga dibunuh. Salah satu catatan pasukan Salib menyebutkan bahwa darah kaum Muslim mencapai mata kaki mereka. Masjid Al Aqsha dijarah dan dirusak. Bangunan di dekat Dome of Rock diubah menjadi gereja. Untuk pertama kalinya, sejak Umar Ibnul Khattab tidak lagi terdengar lantunan adzan dan shalat di masjid tersebut.

Meskipun sangat mengerikan, namun hampir tidak ada reaksi dunia Islam pada waktu itu. Baru beberapa tahun kemudian mulai ada upaya membebaskannya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *