Ulama India Zakir Naik Dituding Dibalik Serangan di Bangladesh

Ulama populer India, Zakir Naik menjadi pembicaraan hangat, setelah  dituding sebagian media menjadi inspirator para pelaku serangan di kafe Bangladesh yang menewaskan 22 orang, awal bulan lalu.

Laporan dari koran Bangladesh  Daily Star mengungkapkan bahwa salah satu  pelaku penyerangan mengunggah video ulama Mumbai ini ke medsos Facebook yang dimilikinya. Laporan ini tidak pelak memantik pemberintaan hangat  di India, walau kemudian Daily Star mengklarifikasi bahwa korannya tidak berusaha mengaitkan ulama terkenal itu dengan aksi terorisme.

Naik sendiri mengakui bahwa salah seorang penyerang, Rohan Imtiaz adalah salah satu dari jutaan penggemarnya di Facebook, namun dirinya mengaku terkejut dengan pemberitaan atas dirinya di media.

“Kebanyakan klip yang ditayangkan tentang dirinya  telah digunakan di luar konteks, dan sebagian pernyataan telah disalahgunakan, termasuk di media cetak,” bantah Naik bahwa dirinya membenarkan aksi bom bunuh diri dan menghina keyakinan masyarakat Hindu.

Jurnalis Times of Indian, Saba Nafqi menuduh Naik mempromosikan interpretasi Islam “yang mengejek keyakinan agama lain, termasuk  meluruskan keyakinan lokal masyarakat Muslim India.”

Akibat kontroversi itu pemerintah federal dan lokal India memerintahkan penyelidikan atas Naik, meskipun departemen keamanan Maharashtra sebelumnya telah membebaskan dirinya dari tuduhan kebencian setelah menyelediki ratusan ceramah Naik, papar koran Hindu tadi.

Penyelidikan juga akan meneliti sumber keuangan Islamic Research Foundation milik Naik yang disebut menerima dana asing untuk kegiatan sosial dan budaya, meskipun formalnya organisasi keagamaan.

Navaid Hamid, Presiden Muslim India, Majlis e Mushawarat, payung bagi LSM Muslim di India mencurigai bahwa semua kontroversi ini direkayasa di luar konteks.  “Sayangnya,  badan intelejen dan kelompok sayap kanan (Hindu) memberikan masalah kepada siapapun yang menentang ideologinya.” Hamid menambahkan bahwa media telah sengaja menampilkan Naik sebagai “seorang monster”.

“Episode Naik adalah bagian dari fenomena biasa yang menampilkan dirinya sebagai sosok jahat dan selanjutnya menyasar masyarakat Muslim,” tuturnya.

Naik pernah diundang pemerintah Jammu Kashmir pro India untuk mendukung perdamaian di wilayah konflik, meskipun ditentang kelompok pro kemerdekaan.

Naik mulai berdakwah pada 1991 dan sukses mengislamkan ratusan orang. Meskipun menggunakan metode dakwah yang damai, namun beberapa pernyataannya dianggap menyinggung keyakinan agama lain atau kelompok Islam lainnya.

Di luar perbedaan diantara mereka,  beberapa kelompok Islam berpengaruh  tetap membela Naik, namun sebagian lainnya meminta pemerintah melarang saluran TV Peace miliknya, yang juga dilarang di Bangladesh karena belum berijin. Naik sering dihubung-hubungkan dengan kengganannya di masa lalu untuk mengecam Usamah bin Laden dengan alasan dirinya tidak mengenal Usamah secara pribadi. Ucapannya yang mendukung “meneror teroris” sering dianggap sebagai persetujuan dirinya atas aksi kekerasan, walau di banyak kesempatan Naik membantahnya.

Ketika pandangan atas Naik telah membelah opini di India, beberapa pihak yang menentangnya juga berargumen bahwa dia tampak dikhususkan meskipun faktanya ujaran kebencian semakin meluas, termasuk dari kalangan nasionalis Hindu, dimana PM Narendra Modi berasal.

“Tidak perlu didebatkan jika Naik berbahaya, elemen pemecah di India karena pidatonya. Namun, dia hanyalah seorang penyeru. Jika Modi ingin melihat ancaman itu, mengapa tidak dimulai dari dirinya, dalam pemerintahan dan partainya?”, sindir laman berita Scroll.in

sumber worldbulletin.net

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *